Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Lelaki di Lubang Camuy

Cerpen: KOKO P. BHAIRAWA

BARU saja aku mau menuruni tangga rumah panggung itu. Tiba-tiba dari balik pohon cempedak, dengan tertatih-tatih sesosok renta dengan membawa kantung plastik hitam datang. Lelaki itu kelihatan amat tua, dengan uban memenuhi kepala dan tubuhnya makin mengecil. Sepasang matanya yang kuyu menatapku bimbang.

***

TIDAK akan pernah kulupa wajah lelaki itu. Sepasang matanya yang sipit, dengan gigi tak rata dan ompong, ditambah lagi rambut di kepala dan di sekitar wajah mulai berganti warna. Tapi senyum dan binar matanya tak pernah lepas setiap menyambut kedatanganku dan anak-anak kampung.

Atuk Jum begitulah kami me-manggilnya. Sosok yang selalu ber-semangat mengajari mengaji dan menulis Arab di tiap sore, bad’a Ashar di hari Senin, Rabu, dan Jumat.

Atuk telah sejak lama tinggal sendiri, di tengah hume pada sebuah teratak berdinding kulit kayu, bertiang tinggi dan beratap rumbia. Aku dan teman-teman menamainya dengan rumah panggung. Rumah atuk memiliki serambi bertingkat, bilah pertama dijadikan tempat menerima tamu dan bilah kedua merupakan tempat kami mengaji. Di sisi kanan dan kiri terdapat dua buah bilik, yang di atas lawang bilik diberi ornamen bermotif tumpal, sebuah lambang kesuburan pada kepercayaan tetua kampung.

Namun, lelaki itu paling tidak suka bila tempat tinggalnya disebut rumah. Bagi atuk, teratak adalah sebutan yang paling cocok.

“Sulai...Sulai, ini teratak bukan rumah. Kalau rumah itu seperti di ujung kampung deket perempatan kota, miliknya tuan Amir, toke sahang kite!

“Iya, tuk” jawabku singkat, tapi apapun namanya bagi kami tempat tinggal atuk Jum sungguh mengasyikan.

Kami senang berlama-lama berada di teratak. Selain udaranya sejuk. Atuk pun selalu menyuguhi kami dengan bijur rebus atau buah keramunting yang hitam-manis. Sesekali kamipun diajaknya membakar jagung setelah selesai mengaji.

Aku pernah mendengar cerita dari Bapak, kalau atuk Jum adalah seseorang mualaf. Dulunya, atuk adalah anak dari saudagar kain sutera dari Cina. Waktu Jepang menguasai Indonesia, atuk dan orangtua serta kedua kakaknya datang berdagang. Tidak berapa lama atuk berkenalan dengan Imah, anaknya Haji Toha.

“Kamu tahukan toko di seberang kanan diperempatan pasar bawah?” tanya Bapak padaku.

“Iya” jawabku mengangguk-angguk.

Nah, itu dulunya milik Haji Toha dan di sebelah kanannya lagi ada toko kain yang tak lain milik keluarga atuk. Pertemanan atuk dan Imah pun semakin serius, sampai pada suatu ketika atuk meminta Afhpanya untuk melamar Imah tetapi afhpanya tidak setuju. Namun, niat itu tetap dilaksanakan, dengan terlebih dahulu mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid Jami.”

“Belum berumur satu bulan pernikahan mereka, Imah dipanggil pencipta lebih cepat karena sakit paru-paru.” lanjut Bapak mengakhiri cerita.

Bapak kok bisa tahu?’ tanyaku penasaran.

“Itu semua almarhum kakekmu yang menceritakan kepada Bapak”

Malam mulai dewasa, bersama ingatanku yang masih terus memutar cerita dari dunia kecilku dulu. Dingin angin yang mulai menusuk tulangpun tak kugubris. Namun, aku harus tidur lebih awal dari biasanya, karena kalau sampai kesiangan nanti akan tertinggal kapal. Aku memang sudah lama tidak pulang kampung. Tapi besok semuanya akan tertuntaskan. Rinduku pada keluarga dan atuk yang merupakan kenangan terindah sebelum aku dibawa adik Bapak sembilan tahun silam.

Bang, lebih baik Bahri ikut denganku. Mubajir jika bakatnya tidak dikembangkan” begitulah kata paksu Mudin memintaku dari Bapak.

Di tanah rantau, akhir-akhir ini ada sedikit kecemasan yang kurasakan. Dari sebuah website koran lokal, aku mendapatkan informasi kalau di kampung mulai marak kegiatan penambangan rakyat yang telah banyak merugikan daerah.

***

DARI jendela kapal, hamparan pasir putih mulai terlihat. Perasaanku semakin tak kuasa, aku mulai menebak-nebak rupa atuk Jum sekarang. Barangkali, rambut lelaki itu telah memutih dan kerutan di wajah tuanya makin nyata. Ada kemungkinan daya ingatanya pun mulai error. Itu galibnya perkembangan manusia, dari bayi belajar beranak-pinak kemudian renta dan pikun.

Apakah atuk, masih juga mengenakan terindak saat berkebun?” tanyaku dalam hati. Biasanya terindak tidak pernah lepas dari atas kepalanya. Itu bukan sekadar asesoris, tapi bisa dikatakan sebagai atribute resmi berladang selain sepatu boat, celana las, dan kemeja coklat dengan tambal disana-sini.

***

ABANG...bangun dulu, Sudah Ashar!” suara serak Ibu menyadarkanku. Perjalanan dari rantau ternyata cukup melelahkan, padahal di oto kongsi tadi aku sempat tertidur. Namun itu belum cukup mengobati kelelahanku.

Setengah jam berlalu sejak Ibu menyadarkanku. Di ruang tengah tampak Bapak sedang duduk santai sembari membaca koran. Di sisi kanannya ada sebuah meja dan diatas meja berdiri tegak secangkir kopi yang masih terlihat mengeluarkan uap.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Bapak menyambutku.

“Lancar-lancar saja, semester depan mulai skripsi” jawabku mantap.

Abang,...tolong Ibu yah, antarkan ini ke atuk!” tiba-tiba Ibu datang dari dapur dengan membawa sepiring kue talam ubi.

Atuk Jum, em apa pendapat lelaki itu saat melihatku nanti?” Aku mulai bertanya-tanya dalam hati. “Pastinya aku bukan lagi bujang kulup yang suka nangis dan runges. Badanku kini telah lebih tinggi dari atuk, aku yakin itu. Tanah rantaupun telah meluaskan pikiranku sebagai anak pulau dengan pahit getirnya kehidupan metropolis.

Sore itu, di ufuk barat matahari mulai bersembunyi dibalik awan, bersama cakrawala yang mulai dipenuhi warna jingga.

“Dua puluh lima menit lagi masuk waktu magrib” gumamku.

Em…masih bisa untuk tiba di tempat atuk sebelum azan” yakinku kemudian.

Agar cepat sampai, aku harus memotong jalan, dan alternatif terdekat adalah setelah melewati tapekong harus berbelok kearah kanan, masuk diantara rimbun dan hijaunya hutan karet. Lalu aku mesti menyeberangi jembatan parit yang terbuat dari kayu pelawan.

Setiba di teratak atuk, tak banyak yang berubah. Aroma khas dari pohon-pohon tropis kembali tercium olehku seperti dulu. Memang disekitar teratak terdapat pohon-pohonan Cengkeh, Rambutan, Cempedak dan Durian.

Assalamualaikum, atuk ada di dalam?” sapaku sembari mengetuk pintu.

“Assalamualaikum,...!” cobaku sekali lagi, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Bahkan berkali-kali kucoba lebih keras. Namun tetap saja belum ada jawaban dari penghuninya.

Dimana atuk?” pikirku.

Sejenak kulemparkan pandangan ke seluruh penjuru halaman. Tetapi tetap saja sosok tua atuk Jum tidak terlihat. Biasanya mendekati Magrib, atuk akan mengkandangkan ternaknya yang jumlahnya pun tak lebih dari sepuluh ekor. Dulu bila ada satu saja ayam yang belum dikandangkan, ia akan mencari sampai ketemu. Apalagi yang hilang itu si Jamprak, ayam jago kesayangan atuk. “Tapi itukan dulu” pikirku lagi. “Sekarang mana ada lagi si Jamprak. Kalaupun ada, itu mungkin Jamprak junior yang merupakan anak-anak atau cucu-cucunya.

Baru saja aku mau menuruni tangga rumah panggung itu. Tiba-tiba dari balik pohon Cempedak, dengan tertatih-tatih sesosok renta dengan membawa kantung plastik hitam datang. Lelaki itu kelihatan amat tua, dengan uban memenuhi kepala dan tubuhnya makin mengecil. Sepasang matanya yang kuyu menatapku bimbang.

Ini Sulai, tuk. Atuk masih ingat Sulai ‘kan?” kataku, lalu meraih dan mencium punggung tangannya.

Mata lelaki itu mulai berair. Ia meraih pundakku dan sembari mengajakku masuk ke terataknya tanpa berkata-kata. Keadaan tempat tinggal Atuk pun tak banyak berubah. Di dinding masih terpasang lukisan kaligrafi milikku, milik Jauhari, dan milik teman-teman yang lain. Bahkan foto kami di depan masjid Jami ketika acara perlombaan tahun baru Islam pun masih terpasang di tempat yang sama.

Sekarang lum musim keremunting” kata lelaki itu, menuang segelas air untukku.

Oh, tidak apa-apa tuk. Sulai hanya mengantarkan talam ubi ini. Sekalian melihat keadaan atuk. Maklumlah Sulai kan sudah lama tidak pulang.” kataku, seraya duduk lebih dekat dengan atuk.

Semuanya sudah berubah” jawab atuk kemudian.

Bapak kamupun telah pensiun. Kebetulan ka datang, ada yang nek atuk ceritakan kek ka. Semua orang di tempat kite ni sudah gila. Masak tempat atuk ini mau dibeli, katanya mau dijadikan tambang. Terus kalau begitu dimana atuk mau tinggal. Atuk ini sudah tua, sudah sering sakit-sakitan, sebentar lagi akan pulang ke tanah. Macam-macam penyakit pun ada, dari sakit kepala, demam, ditambah lagi atuk ini sudah sering meriang. Mana mata ini sudah susah melihat.” lanjut lelaki tua itu.

Atuk Jum akhirnya mengungkapkan cerita tentang rusaknya lingkungan di sekitar terataknya akibat penambangan timah rakyat, tetapi cerita itu harus dipending ketika suara azan memanggil kami.

***

KEINDAHAN tanah kelahiranku memang telah sedikit berkurang, tetapi ia tetap menggoda siapa saja yang pernah datang untuk datang kembali. Satu bulan sudah aku kembali meninggalkan tanah yang telah memberiku semangat itu. Peliknya rutinitas kembali aku jalanin. Sampai pada suatu malam aku mendapat kabar melalui ponsel.

Abang, yang ikhlas ya...!” Suara diujung ponsel yang tidak lain adalah milik ibu mengejutkanku.

“Emang ada apa bu?” tanyaku penasaran

Emm, sejak dua hari lalu atuk hilang. Menurut kabar, mang Nuar melihat atuk sedang bercakap-cakap dengan seseorang dari kota di terataknya sehari sebelum hilang,..lalu

“Lalu apa bu?” lanjutku semakin penasaran.

Belum sempat Ibu melanjutkan cerita tiba-tiba batere ponsel low-bat. Malam itu aku tak bisa menelpon balik ke rumah, selain uang di dompetku yang jumlahnya hanya cukup buat makan dua hari, bukan hanya itu pulsa diponselku pun memang telah lama belum diisi. Aku hanya bisa memendam pertanyaan bagaimana nasib atuk sekarang.

Aku terdiam di sudut, pandanganku hampa. Ingin rasanya aku berlari sekencang-kencangnya dan kembali ke Bangka untuk mencari kabar tentang atuk. Beberapa saat kemudian, kucoba untuk menenangkan diri. Pandangan kulepaskan ke seluruh penjuru kota Palembang. Dari lantai lima rumah susun, di sebelah utara terlihat dengan jelas kerlipan lampu Jembatan Ampera, yang dengan gagah menatapku. Di sebelah kanannya, lampu-lampu dari Pelabuhan Boom Baru seolah merayuku untuk kembali pulang esok pagi. ”Em,...Huusss!” kutarik napas dalam-dalam.

***

SATU minggu sudah sejak telepon dari Ibu yang mengabarkan tentang hilangnya atuk, tetapi aku masih belum mendapatkan kejelasan dimana atuk sekarang. Sampai suatu siang, ketika aku menjemput Anwar teman sekampusku yang baru mudik dari Bangka, aku melihat foto di headline koran yang ia bawanya. Gambar lelaki yang ada di foto itu seperti tak asing bagiku.

Iya, itu atuk,!” seketika darahku seakan turun. Kakiku terasa berat untuk melangkah, aku tersudut lemas diantara tiang penyanggah parkir pelabuhan Boom Baru.

Lai,...ini ada surat dari mamakmu!” kata Anwar sembari menyerahkan surat beramplop putih dari saku jaketnya.

...Abang, maafkan Ibu yang menyembunyikan permasalahan ini darimu. Sebenarnya sudah sejak lama daerah tempat tinggal atuk akan digusur oleh pemerintah. Mereka mengatakan atuk tidak memiliki sertifikat tanah. Namun, karena bapakmu kenal baik dengan orang-orang di PEMDA maka masalah ini bisa diatasi. Tapi sekarang bapakmu sudah pensiun masalah itupun kembali diangkat. Dan ketika orang PEMDA itu datang, atuk tetap berkeras untuk tidak mau meninggalkan terataknya, karena atuk tahu bahwa tempat dimana ia tinggal merupakan daerah aliran penambangan timah yang sangat bagus. Makanya atuk tidak rela bila bumi Bangka kembali dilubangi hanya untuk mendapatkan pasir timah yang kemudian hanya bisa dinikmati oleh para toke-toke.

Abang, atuk memang menghilang dari kampung, sampai kemarin pagi ditemukan oleh encik Insan yang bekerja di penambangan tidak jauh dari teratak. Atuk meninggal di lubang camui. Sepertinya atuk telah terlalu lelah meladeni tekanan-tekanan dari orang-orang kota yang akan menggusur tanahnya.***

Palembang, 25 September 2006


Catatan:

*atuk = kakek, *hume = kebun/ladang, *teratak = pondok, *bilah = lantai, *lawang bilik = pintu kamar, *deket = dekat, *toke sahang kite = bos lada kita, *bijur = ketela rambat, *Afhpanya = ayahnya, *paksu = panggilan untuk adik Bapak yang paling bungsu, *terindak = tutup kepala yang terbuat dari anyaman bambu, berfungsi sebagai pelindung dari panas matahari dan hujan, *abang = panggilan untuk anak laki-laki tertua di rumah, *oto kongsi = mobil angkutan, *talam ubi = sejenis panganan tradisional di Bangka, *bujang kulup = panggilan bagi anak laki-laki yang belum dikhitan, *runges = dekil, *tapekong = tempat bersembahyang pemeluk Kong Hu Cu, *lum = belum, *mamakmu = Ibu, *camui = lubang pembuangan limbah Tambang Inkonvensional.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Coklat di Negeri Pasir

Coklat di Negeri Pasir

(Koko P Bhairawa)

Cerpen ini merupakan salah satu cerpen terbaik dalam festival kreatifitas pemuda tahun 2005 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (MEMPORA) dan CWI 2005, serta masuk dalam kumpulan cerpen "La Runduma"

DAHULU kami hidup dengan te-nang, sampai pada suatu ketika bapak kehilangan tanah – tempat dimana beliau selalu mencangkuli permukaan humusnya. Dulunya di pagi Minggu, aku, bapak, emak dan adik Tyo acapkali pergi ke ladang di belakang rumah yang jaraknya tak lebih dari lima ratus meter saja. Konon tanah itu tidak ada yang tahu siapa empunyanya. Bahkan sejak kami belum datang dan menetap, para tetangga sudah ada yang membuka lahan di sana. Jadi bapak pun berinisiatif untuk ikut berladang. Walaupun sekadar menanami ladang dengan tiga puluh sampai empat puluh rumpun Sahang saja, ditambah lagi dengan beberapa batang tomat, cabe dan tanaman kacang-kacangan.

”Lumayan untuk menambah bumbu dapur,” kata Bapak ketika memulai berladang dulu.

Setiba di ladang, biasanya aku tidak langsung membantu Bapak menyiangi rumput ataupun memetik buah tomat yang telah ranum dan cabe-cabe yang begitu memerah. Kebiasaanku setiba di ladang selalu menghampiri sebuah kolam terlebih dahulu. Oleh warga di kampung kolam itu lebih dikenal dengan sebutan kolong. Di kolong aku akan memasang beberapa rawai di sudut-sudut yang telah kukenali sebagai markas para ikan.

Kolong bagi warga bukan sekedar kolam yang ditinggalkan akibat dari penambangan timah darat puluhan tahun silam. Dari kolong juga kami memperoleh sumber air – tempat kami mandi dan mencuci pakaian. Bahkan kerabat kami di barat kampung, telah memanfaatkan kolong menjadi tempat pembudidayaan ikan dengan menggunakan jaring apung. Hasilnya pun cukup untuk dinikmati warga kampung dan dijual di pasar inpres.

Kolong yang jumlahnya lebih dari seratus - bukan hanya menjadi lukisan indah di tanah negeriku. Betapa tidak, ketika bapak kelelahan habis mencangkul. Kolong adalah sasaran tubuh kekarnya untuk sekedar berendam dan membersihkan keringat.

Tanah negeriku sebenarnya tidak bisa merubah tongkat menjadi tanaman, tidak juga kayu ataupun batu. Namun, tanah negeriku bisa mendatangkan sepiring nasi dan pakaian bagus bagi sebagian penghuninya. Bahkan alat komunikasi secanggih ponsel pun bisa didatangkan oleh tanah. Lantaran kehebatan itulah, sekelompok manusia menjadi gila untuk terus memburu tanah ke setiap hamparan negeri yang sebenarnya telah lama ditinggalkan peri-peri dongeng pulau timah.

Aku menjadi aneh saja, lantaran orang-orang aneh itu dengan gagah dan tanpa bersalahnya nebang utan adet. Padahal sejak dulu, aku mendengar dari cerita Atuk Jum yang menjadi pemangku adat suku Pacor, dimana adat telah mengajarkan untuk tidak melakukan perbuatan yang akan bermuara pada bencana bagi warga kampung.

Nebang Utan Adet, pasti akan membuat murka penguasa tanah aeik. Bila itu terjadi kita akan mendapat wabah penyakit ataupun bencana”. jelas Atuk Jum. Aku terdiam sesaat lalu kulontarkan pertanyaan yang barangkali akan dijawab Atuk.

”Tapi kok kita semua yang akan menderita?”

”Iya Cuk, penguasa tanah aeik tidak akan memilih siapa yang layak menerima bencana dan siapa yang tidak. Semuanya sama saja karena dianggap telah lalai menjaga tanah. Akan tetapi kita bisa menghentikan kemurkahan itu.” Dengan senyum diantara wajah keriputnya, lelaki yang telah berusia tujuh puluhan itu menatapku dalam.

”Benar ya, tuk?” tanyaku penasaran.

“Benar. Untuk itu kita mesti mengadakan ceriak yang semua bianyanya ditanggung oleh warga. Apabila setelah diadakan ceriak ternyata bencana masih datang juga. Kita harus mengadakan upacara rateb saman.” Aku kembali terdiam bersama Atuk yang mulai menggiling tembakau di kertas rokok.

Kegilaan orang-orang aneh itu, cukup beralasan. Setahuku memang setiap jengkal tanah di negeriku begitu bernilai. Butiran pasir hitam yang tidak lain adalah timah, merupakan sumber nafkah utama mereka. Tak heran bila demi mengisi perut, maka perut negeri pun terpaksa dikuras dan terus dikuras. Hingga humus di atasnya berganti hamparan pasir. Bila butir hitam ditanah itu telah habis, dengan santainya mereka menyelipkan puluhan uang ratusan ribu ke saku orang-orang aneh lainnya di ibu kota. Setelah semuanya tenang, mereka akan kembali menjalankan mesin pompa yang menyedot pasir dari kolong kolam di tanah berhumus lainnya. Hingga pada suatu saat – di suatu siang mesin itupun singgah di tempat Bapak biasa mencangkul.

Dengan keperkasaanya mesin pompa menyemburkan pasir yang sebelumnya melewati pipa paralon. Pasir-pasir itu kemudian tertampung di dalam bak kayu. Dengan menggunakan batang kayu, satu dari sekelompok orang aneh itu memisahkan butiran hitam dari kubangan. Kini rumpun sahang ataupun merahnya cabe mulai berganti warna. Bapak yang melihat tanah cangkulannya teraniaya hanya bisa terdiam. Tak ada yang bisa dilakukan bapak ataupun orang-orang yang membuka ladang disana. Tak ada tuntutan ataupun berkas acara, karena tanah dimana kami meladang selama ini hanyalah tanah tanpa bertuan dan apabila ada pihak lain yang datang dengan kertas bersegel, kami hanya bisa diam dan meratapi dalam hati.

”Cukuplah, semuanya kita kembalikan kepada Allah!” begitulah Bapak bersuara sembari membalikan tubuh dan tidak pernah berniat melihat ke belakang lagi.

Lelaki bertubuh jangkung, dengan kulit sawo matang itu terus berjalan. Sesosok tubuh mungil yang tak lain adik Tyo mengikuti bapak dari belakang. Dari tatapan mata Tyo kulihat kebencian pada mesin dan pipa-pipa paralon yang memanjang memagari ladang yang kini berubah fungsi. Dikeluarga kami, bapak tak pernah mengajarkan kebencian pada sesama manusia. Alhasil wajar bila kemudian Tyo pun melampiaskan kebenciaanya pada dua benda mati tersebut.

Bang, kenapa mesin dan pipa diciptakan?” tanya Tyo sekembaliku kerumah.

Belum mulut ini mau menjawab, satu pertanyaan kembali dilemparkan Tyo, ”Emangnya mesin dan pipa-pipa itu diciptakan untuk merusak tanah seperti yang Tyo lihat tadi yah?”.

Aku sebagai abangnya, terdiam menyaksikan parade kata-kata yang dimainkan oleh seorang anak yang baru tahu mengeja huruf dan menghitung dari satu sampai seratus itu.

”Tyo, mari sini belajar dulu!” panggil emak kemudian.

Pertanyaan Tyo benar-benar membuatku semakin tak mengerti tentang jalan pikiran sekelompok orang aneh itu. Dari balik kaca jendela kamar, kulihat tiang-tiang kayu yang ditancapkan sebagai penyanggah bak papan pemisah pasir timah.

***

DUA hari sudah sekelompok orang aneh itu membabat habis ladang-ladang kami. Mulai dari rumpun sahang, merah cabe, tomat, bijur ataupun pucuk ubi mulai menghilang dari ruang di bola mata kami. Bahkan nyanyian Murai Batu yang setiap paginya menyejukkan gendang telinga, kini berganti dengan suara gemuruh mesin tambang. Parahnya lagi mesin itu terus aktif sampai malam.

Pagi Minggu ini, tidak seperti biasanya. Bapak tampak malas-malasan sembari membaca koran di teras rumah bersama secangkir kopi buatan emak. Di ruang tengah kulihat dengan jelas Emak sedang menambal celana main Tyo yang telah berlubang dibelakangnya. Sedang Tyo asyik menonton film Doraemon dengan berselimut sarung bekas khitananku dulu. Pagi Minggu ini benar-benar aneh. Aku kemudian berjalan menuju gudang, kupandangi perlengkapan rawai disudut, ia tergelatak begitu saja – tidak seperti hari Minggu-minggu sebelumnya yang selalu mengiringi pagi kami yang akan berladang di tanah belakang.

Jam menunjukkan pukul setengah sembilan, kuambil rawai dan perlengkapan berladang lainnya. Aku kemudian menapakkan langkah melewati rimbun dan hijaunya batang resam. Tujuan akhirku adalah kolong dibelakang ladang. Tetapi sebelum sampai di tempat itu aku mesti menyeberangi jembatan parit yang terbuat dari kayu pelawan dulu. Setiba di tanah yang dulunya kukenali sebagai tempat rumpun Sahang, tak banyak yang bisa dinikmati mataku, kecuali hamparan padang pasir yang meluas hingga ke ladang mang Darkum, mang Umar, mang Suep dan mang Didin.

”Selamat tinggal keindahan hijau rumpun sahang!” batinku berkata.

Hamparan padang pasir itu nampak kosong, tak ada penghuni lain kecuali diriku dan pipa-pipa paralon. Maklumlah di hari Minggu, orang-orang aneh biasanya libur menambang dan mereka pergi ke pasar untuk menghabiskan uang yang didapatkan dari membalikkan humus menjadi pasir. Aku kembali berjalan menuju kolong, tak berapa lama yang kutemukan justru kubangan cokelat dengan sisa minyak solar dipermukaannya. Sejenak kulemparkan pandangan ke seluruh penjuru. ”Tak ada kolam lain!” gerutuku dalam.

Mataku terus mencari kolam berair jernih – ditumbuhi teratai putih serta rumpun-rumpun hijau tanaman air dan beberapa komunitas enceng gondok yang tertata rapi di sudut kanan kolam. Namun sampai lima menit lamanya, kolam yang oleh anak-anak kampung dinamai dengan kolong ijo tak kutemukan. ”Mungkin tak akan pernah bisa kutemukan lagi.” Walau demikian, aku masih saja memasang rawai seperti biasanya, disebagian utara dan sebagian barat yang masih menampakkan kegairahan para ikan untuk bercanda. Memang kolong ijo sudah tampak berwarna kecokelatan tapi masih ada disebagian tubuhnya belum terkontaminasi sisa-sisa minyak solar mesin.

Begitulah nasib kolong di negeri ini, bila tanah disekitarnya telah berganti fungsi, maka dirinya pun ikut mendapatkan sentuhan. Cokelat di kolong ijo, merupakan hasil make over dari orang-orang aneh. Dengan gagahnya mereka mengalirkan limbah penambangan dari camui ke tempat yang lebih besar lagi, dan kolong ijo menjadi pilihan mereka.

Matahari telah tepat diatas ubun-ubunku, sayup-sayup alunan azan mulai menghampiri indera pendengaran. Setelah semuanya rawai selesai – pada posisinya masing-masing, aku kembali kerumah. Kembali kulewati jalan yang sama, namun dari kejauhan terlihat ramai orang mendatangi rumahku. Langkah kaki tanpa dikomando langsung bergerak cepat.

”Ada apa?” tanyaku ngos-ngosan.

“Adikmu, kena tulah dari penguasa tanah aeik” jawab Atuk Jum singkat.

“Haaaa?” aku tersudut lemas di pinggiran bufet. Kuperhatikan sekujur tubuh Tyo telah ditumbuhi bintik-bintik besar berwarna merah. Bapak dan emak terus berzikir, sementara Atuk Jum terus mengusap rambut Tyo dengan air dari gelas ditangannya. Aku tak habis pikir, tadi pagi Tyo masih sehat-sehat saja, bahkan dengan asyiknya menyaksikan tontonan favoritnya.

”Sepertinya penguasa tanah aeik telah murka!” kata Atuk memecah keheningan.

Kok bisa?” tanyaku polos.

Iya, penguasa tanah aeik marah lantaran ada yang berani mengusik wilayah utan adet. Tanah dimana bapakmu dan orang-orang kampung lainnya berladang, dulunya merupakan wilayah utan adet suku Pacor. Akan tetapi karena selama ini terus kalian jaga dengan menanami rumpun Sahang, maka terjagalah keseimbangan antar dunia. Tapi sekarang semua telah berubah, tidak ada lagi tanah humus dan rumpun sahang” jelas Atuk. Aku belum terlalu mengerti apa yang dibicarakan atuk, ”Keseimbangan antar dunia, apa maksudnya”

”Lalu apa yang harus kita lakukan agar tidak kena tulah dari penguasa tanah aeik lagi?” tanya mang Darkum kemudian.

”Seperti aturan adat, kita mesti mengadakan ceriak. Apabila setelah diadakan ceriak ternyata bencana masih datang juga. Kita harus mengadakan upacara rateb saman”

”Ceriak?”

”Ya benar ceriak!” sambut kakek-kakek disebelahku.

”Tetapi sebelum kita mengadakan ceriak, kita bakar saja tambang dibelakang yang telah menjadi awal kemarahan penguasa tanah aeik!” Mang Darkum kembali bersuara.

Iya, kita bakar saja” sambut yang lainya sembari menganggukan kepala.

”Jangan, kita berbuat seperti itu” suara berat bapak mencairkan suasana. Orang-orang kampung yang tadinya telah naik pitam, kini kembali reda. Mereka kemudian mendengarkan perkataan Atuk. Menjelang Ashar, mereka semuanya meninggalkan rumahku.

Kini tinggallah aku, bapak dan emak yang terus menjaga Tyo. Bagi kampung kami, antara adat dan agama adalah dua sisi yang saling berdampingan, melayu islam yang menjadi pegangan orang-orang kampung tidak bisa dilepaskan dengan aturan adat. Oleh karenanya aturan adat tetaplah aturan adat yang mau tidak mau harus kami jalankan.

Kudekati tubuh Tyo yang sudah dipindahkan dari ruang depan kekamar emak, suhu bahannya sudah tidak tinggi lagi seperti pertama kudatang, bercak merah ditubuhnya pun sudah semakin mengecil. ”Itu tandanya tulah telah hilang dari tubuh adikmu.” bapak mendekatiku yang duduk dipinggiran dipan. Baju Tyo yang kubuka segera kurapikan kembali. Melihat Tyo tak berdaya akibat ulah orang-orang aneh yang membawa murka penguasa tanah aeik, emosi benar-benar tak bisa tertahan lagi. Napasku begitu cepat, degup jantung memompa darah cepat. Bapak yang memperhatikan sedari tadi langsung merangkul tubuhku yang kurus dengan tangan-tangan kekarnya.

”Sudahlah jangan kau pikirkan!” ujar bapak kemudian.

Aku hanya mengiyakan, lalu aku bergegas keluar menuju pintu belakang, emak yang melihatku segera memanggil.

”Mau kemana?”

”Ke kolong sebentar” jawabku.

Aku memang berniat mendatangi lokasi penambangan itu, dan aku ingin sekali berulah. Tetapi setiba di tanah berpasir. Hamparan padang itu, kini tampak lebih ramai dengan telapak-telapak kaki yang membekas di pasir, bersama lenyapnya pipa-pipa paralon dan peralatan tambang lainnya. Tak ada tiang-tiang tinggi penyanggah yang menjulang karena tiang itu kini telah ditidurkan ditanah tak berhumus, ”Tapi kapan yah?”. Tak habis-habisnya kupandangi sekeliling, tak ada seorang manusiapun kecuali diriku disana.

Kornea mataku terus memandangi sekeliling. ”Tanah berpasir dan kubangan coklat di kolong, yah hanya itu yang ditinggalkan orang-orang aneh. Entah kemana lagi mereka setelah dari sini?” aku terduduk memandangi negeriku yang tak lagi bertanah humus – berdaun hijau dan berair jernih.***

Bangka, 3 Oktober 2005

Keterangan :

rumpun sahang = sebutan untuk tanaman Lada * menyiangi = memotong * kolong = lubang eks galian penambangan timah darat yang menyerupai danau * rawai = salah satu metode pemancingan ikan dengan meninggalkan pancing selama beberapa jam (biasanya lebih dari 4 jam) * nebang utan adet = menebang hutan dalam kawasan adat suatu suku * atuk = kakek * suku pancor = suku ini berada di kampung Pelagas, Simpang Gong, Simpang Tiga, Kundi, Simpang Teritip sebagian dan Peradong sebagian. Yang termasuk dalam wilayah Bangka Barat * penguasa tanah aeik = penguasa suatu tempat * cuk = cucu * ceriak = upacara adat yang bertujuan membersihkan kampung dari bencana * singgah = mengunjungi * bang/abang = panggilan untuk kakak laki-laki * bijur = ketela rambat * resam = sejenis tanaman perdu, biasanya isi batang resam dijadikan bahan pembuat kopiah (peci) * camui = lubang pembuangan limbah penambangan rakyat. * tulah = ganjaran * buffet = lemari pajangan * dipan = tempat tidur

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Aku Lelah Menjadi Cantik


"KENAPA aku tidak bisa seperti mereka?"

"Karena kau adalah perempuan!" cetus bunda dengan cibiran khas.


***

Jatuhan uap air yang telah jenuh di awal Maret kembali membasahi sekujur tubuh negeri. Semua yang menganga akan segera dipenuhinya lalu menyebar hingga ke lapisan paling luas ditiap jengkal. Tak terkecuali tempat dimana aku dan bunda berdiri. Sore itu kembali aku menegakkan tiang-tiang, menyambung tiap pangkalnya dan menutup bagian atas dengan tenda plastik berwarna biru. Setelah semua tepat pada posisi masing-masing, kini giliran yang lain membersihkan jalanan aspal dari genangan air dan melapisi dengan karpet plastik bermotif bunga merah.

Sore masih menunjukkan kesetiaan bagi para awan bersama sapuan jingga yang terus berpendar di barat. Beberapa anak berjaket kulit tampak nongkrong di parkiran, sesekali dari mulut mereka terlempar godaan ketika sebentuk tubuh dengan sesuatu terbuka dipusar melintas diantara dua pohon beringin.

"Ayo tata semua meja!" pinta bunda yang telah mem-formatku jadi sebentuk manusia cantik. Imajiku hancur bersama siulan dan ratapan.

Dari kecil aku telah ikut bersama bunda melewati tiap putaran waktu dengan penuh kehangatan. Aku hanya mengenal Ayah lewat kata, tidak seperti mereka yang begitu gembira ketika bercerita tentang apa pekerjaan ayah, berapa hektar tanah ayah, berapa banyak obligasi ayah, berapa banyak uang saku yang tiap hari mereka terima dari Ayah. Dan setiap kulontarkan pertanyaan bertemakan ayah, Bunda selalu diam dan tak mau menatapku dalam-dalam seperti kebiasanya selama ini.

"Kata guru, besok semua orang tua siswa datang ada rapat. Kata guru, kalau bisa Ayah yang datang!".

"Kalau bisa!" tegas bunda padaku. Sejak saat itu setiap ada pertemuan siswa bunda enggan untuk datang.

Dua puluh tahun lamanya aku hidup dalam imaji 'Ayah' tanpa kukenal bentuk laki-laki yang telah berjuang bersama bunda membuatku ayu seperti ini.

"Ayah...Ayah..Ayah!" Separuh hidupku hanya bisa memahat kata itu pada tiap lembaran waktu. Kata temanku Bahri, ia punya seorang laki-laki yang kerap dipanggilnya dengan nama Ayah. Ia bersama laki-laki itu setiap pagi minggu pergi memancing di kolam pinggiran, begitu juga dengan Mahessa yang ditiap paginya selalu diantar oleh laki-laki yang ia sapa dengan Bapak dengan jas dan mobil ACnya. Tapi kalau memang Ayah adalah sosok yang diperlukan kenapa bunda tak pernah menampakkannya padaku.

Sejak aku mengenal baca tulis, baru kusadari ada yang kurang pada hari-hari. Pagi yang kulihat hanya sebuah figura tua dengan gambar sesosok laki-laki berpeci. Ketika sarapan, di meja makan yang kutemukan hanya sosok bunda dengan wajah terbalut kain panjang. Dan tatkala malam datang dengan dongeng yang kerap memadati ruang di telinga. Di dini hari, mimpi pun tersadar. Tak ada semua bayang tentang keindahan hari. Ketika saat itulah bunda hadir dengan dendang yang begitu aku rindukan hingga aku tumbuh jadi sebentuk mahkluk cantik.

"Yah, mahkluk cantik yang selalu menjadi kebanggan bunda"

Hari ini untuk sekian kalinya sebuah lilin tertancap ditengah kerutan hati. "Kata mereka aku cantik Ayah, tapi kau tak pernah melihatku dua puluh tahun ini. Apa karna aku cantik?" batin terus berimaji dengan kata-kata Ayah.

Mungkin harusnya aku lebih baik tidak mencicipi kenikmatan ruh yang telah ditiupkan pada wujudku di janin. Walau pada akhirnya aku besar dengan cantik dibawah lindungan bunda. Tapi, cantik tak membuatku menjadi bebas. Semua orang begitu sering menatap kemolekan tubuh dan parasku. "Karena kau begitu cantik!" ujar Mahessa dengan lantang.

"Aku cantik?" tanyaku setengah tak percaya. "Tapi aku tak mau jadi cantik.".

"Hai,..ingat banyak diantara mereka disana yang ingin sepertimu tapi apa. Mereka tak bisa!" sekali lagi Mahessa dengan kerasnya menatapku.

Kupandangi wujud muka. Pada pantulan di cermin powder lipat, dan tepat dihadapan kutemukan wajah yang enggan untuk ditatap lama-lama. Barangkali semua orang telah kehilangan citra penglihatan, sehingga si buruk rupa menjadi tuan putri di hadapan kornea mereka.

"Tidak, aku tidak cantik. Dan aku tidak mau menjadi cantik!" batinku berontak. "Tapi kau begitu cantik diantara mereka"

"Em, apa iya aku cantik?".

"Ada tamu, cepat kesana!" sekali lagi bunda menghancurkan imaji.

Sepanjang temaram bulan aku bermandi peluh di dingin separuh hari.


***

Matahari kembali mencibirkan ruh paginya, sedang diri hanya bisa bersembunyi dibalik selimut tambalan Bunda. "Lelah menjadi cantik."

Ingin kucabik-cabik saja sinar yang jatuh tepat di pinggiran meja rias. "Sudah pagi!"

"Iya, aku tahu, kalau matahari datang dengan cahaya keemasannya itu berarti telah pagi. Tanpa diberi tahu, aku telah mengerti!"

Aku paling tidak suka bangun di pagi hari. Bagiku cahaya matahari justru menghilangkan selera menjadi manusia. Bagaimana tidak, ketika malam banyak diantara mereka yang mengatakan aku cantik. Padahal mereka melihat dengan pantulan cahaya bulan. Nah bagaimana bila pagi? pasti mereka bisa dengan sangat jelasnya melihat diriku.

Aku tahu kulitku tak seputih susu, wajah pun tak semulus porselen Cina. Sesuatu yang ada di dadaku tak sehebat Pamela Anderson, Pokoknya semua yang ada padaku serba cukup. Cukup membuat mereka membulatkan biji mata dan meneteskan liur.

"Uhsss...!"

Segelas susu panas kembali terhidang di bola mataku. "Bunda memang baik, dan mungkin begitulah semua perempuan"

Perempuan ataupun mahkluk bernama wanita itu sangat simpatik, sungguh menyenangkan, dan juga tidak egois. Dia pandai dalam seni kesulitan hidup berkeluarga. Dia mengorbankan dirinya setiap hari. Kalau tersedia daging ayam, dia makan bagian kakinya. Jika ada kesengsaraan, dia duduk didalamnya-pendek kata dia terbentuk seperti itu hingga tak punya pikiran atau keinginan sendiri, tapi memilih untuk selalu bersimpati dengan pemikiran dan keinginan-keinginan orang lain.(1)

Kutarik selimut, kudekap erat guling yang telah berlumuran bercak yang tak jelas. Kurasakan kenikmatan permainan pagi.

"Kau sudah bangun rupanya?"

"Iya." jawabku pendek. "Nanti ada tante Inakmu datang!" balas bunda sembari mengusap rambutku yang tak terlalu panjang.

"Uhsss...!" Aku begitu tidak bersemangat kalau tante Inak yang datang. Dia akan langsung menghujamku dengan rentetan kalimat tidak mengenakan tatkala ia tahu kalau aku masih mengenakan celana diatas lutut, pakaian tanpa lengan, merah-merah pipi ataupun pewarna bibir. "Kalau hanya antingan aku setuju saja, tapi..!" celoteh tante Inak tiga minggu yang salalu sebelum aku memutuskan untuk meninggalkan dinas malam.

Aku tidak mengatahui kenapa ia tidak suka melihatku begitu. Padahal dengan seperti itu aku kelihatan begitu cantik, "Kata teman-teman."

Aku rimbun dalam nafas hidup yang dinaungi trauma. Aku begitu malas untuk mengubah semua yang telah terbentuk. Walau aku tahu ini salah bagi sebagian kaum.

"Kenapa aku tidak bisa seperti mereka?"

Berjalan tegap dengan seorang perempuan disisi kiriku. Aku rindu saat itu datang."

"Karena kau cantik, dan cantik adalah perempuan" suara itu datang mengejutkanku. Sepertinya ia selalu tahu saat diri kehilangan keyakinan. Hanya penggelan kalimat itu yang selalu menguatkan hari-hariku.

"Kau sama saja seperti ibumu, perempuan kuat dengan segala kegelisahan"


***

Siang semakin dewasa bersama sorak-sorai anak sekolah yang baru menanggalkan rutinitas rumus fisika ataupun hafalan sosiologi. Diantara mereka dari jendela depan rumah tampak laki-laki sebaya denganku, ia begitu dewasa mengawal anak-anak meninggalkan pagar gedung yang dulu membuatku mengerti tulisan. Lelaki itu tak banyak berubah dari pertama aku menyisahkan sedikit pandangan tatkala musim sekolah ramai. Beda denganku, dimana aku tampil lebih cantik. Padahal aku dan dia 'sama'.

Setengah perjalanan jarum dinding aku larut dalam khayalan, menikmati imaji kosong. Membiarkan otak lepas dari kepala dan meletakkanya pada pinggiran jendela depan, untuk beberapa saat kemudian aku tersadar bahwa isi kepala sudah digerayangi lalat.

"Bunda, aku capai menjadi cantik karena kebebasanku terbelenggu, terkunci dalam sangkar yang tak jelas."

Pada detik berikutnya, satu demi satu semua yang ada padaku terlepas. Mula-mula pemberat telinga yang sepanjang malam menggelayut kini menyisakan lubang. Penyangga dada yang selama putaran hari meletak tak jelas fungsinya mulai kehilangan selera denganku. Pewarna bibir yang merupakan simbol ekstotis sisi perempuanku memudar. Hingga pada seperempat langkah jarum pendek akhir semuanya benar-benar lepas.

"Aku tak mau lagi bertemu dengan engkau bulan, karena rayuanmu begitu mempesonaku untuk menjadi cantik."


Banten - Kelapa Gading - Lemabang, Pebruari-Maret 2006

ket:

1) Salah satu tulisan dalam esainya "A Room for One's Own" karya Virginia Woolf.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)