Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Puisi Koko P Bhairawa di Oase Kompas

Alhamdulillah,..akhirnya puisi-puisi koko bisa juga muncul di KOMPAS walaupun hanya di oase kompas online,..he,..he,..


Puisi-puisi Koko P Bhairawa

Jumat, 19 September 2008 | 20:36 WIB

bisa dilihat di sini JUGA (silahkan klik)


Kami dan Kota Pagi Ini

para pemimpi tlah dikumpulkan
otak mereka ditelanjangi
sementara mulut - lidah dibiarkan
berlari bebas di karpet buldru
dan kaki-kaki dibiarkan tanpa telapak
melukai belukar senayan

kami dan kota pagi ini
tak kan lupa bilang tidak pada mu
biar basah hari menyekap jiwa
dalam selimut tebal dan wangian tubuh
lalu apa yang mampu kau katakan pada kami


Kami dan Kota Sore Ini

terjebak sudah sekumpulan imaji
pada riuh ibu kota
ditimang-timang asap knalpot dan
dinyanyikan dendang anak jalanan
kami dan kota sore ini menyusuri
patahan-patahan teriakan teman sejawat
di antara air mancur dan bundaran
memunguti remah-remah semangat
yang tergeletak di pagar berduri
dan blokade gas air mata

kami dan kota sore ini mengulang
sejarah tanpa darah
sobekan kulit
ataupun letusan
di sini hanya ada butir kalimat
dari sekumpulan otak
yang tersiksa
akan sebuah bangsa tercabik


Kami dan Kota Malam Ini

kami yang tersudut pada petak dan
gorong matraman dibanjiri peluh
yang berintegral dengan jatuhan air
jakarta malam ini terpotong
aroma pecel lele dan bising klakson
membutakan hari yang telah merubah
wajah jadi huruf-huruf
jakarta malam ini melibas kami
yang tersudut pada petak dan gorong
yang remang oleh huruf dan
banjir konsep


Sehabis Hujan Malam

tak kutemukan bulir-bulir senyum di sini
mungkin ia terhapus oleh basah semalam
tawa renyah pun membusuk sudah
diantara patahan hati dan beku darah
kurindu belai dan genggam tangan
pagi inikah kau akan bangunkan kutidur
bawakan secangkir teh manis
dan sepiring nasi goreng

di kota ini bayangmu
kembali memenuhi pelataran
pucuk-pucuk wangian teh
hingga katup bola mata enggan kerja
tak kutemukan wajah bulat itu disini
bahkan kabut tipis kegirangan
selimuti tubuh dempo
: pagi ini ada dan atau tanpa kau
aku tetap kelelahan


Aku Datang ke Kota

aku datang ke kota
bukan untuk temukan
siapa yang datang untuk siapa
atau siapa yang pergi untuk datang
atau sekedar setor wajah
pada lidah-lidah basah itu

aku datang ke kota
tidak juga untuk nantikan jawaban
siapa menunggu siapa
dan siapa yang paling setia
bukan juga sepotong cake coklat
untuk mulut-mulut kelaparan itu

aku datang ke kota
bukan tidak mungkin untuk merampas
dongeng yangg dulu tercatat di pinggiran Cikini

aku datang ke kota
buka untukmu - bukan untukku pula
tapi untuk kita
: besok - esok - esok
dan esok begitu punya nilai


Sehabis Kehilangan Jam

jarum pendek dan jarum panjang
tak pernah dipenjarakan
tapi kenapa kau datang padaku
dan bawakan kedua potong jarum itu
lengkap dengan patahan-patahan detik
sementara kulihat di kantung saku jeansmu
waktu kau bungkus dengan sapu tangan putih
aku kehilangan seperempat patahan itu
lalu terdiam - membulatkan mata
dan membiarkan kau ombrak-ambrik
angka dibulat kristal
: aku masih terdiam


KOKO P. BHAIRAWA, terlahir dengan nama Prakoso Bhairawa Putera S. Lahir di Tanjung Pandan (pulau Belitung), 11 Mei 1984. Duta Bahasa tingkat Nasional (2006) ini kerap menyasarkan tulisannya ke media, dan dimuat Suara Karya, Suara Pembaruan, Biskom, Annida, Cinta, Radar Banten, Banten Raya Post, Bangka Pos, Padang Ekpsres, Sriwijaya Post, Sumatera Ekspres, Singgalang, Transparan, Berita Pagi, Tabloid Monica, Bahana Mahasiswa-Unri, Indralaya Post-Unsri, Tabloid Anak Hoplaa serta tersebar di internet. Buku-bukunya: Megat Merai Kandis (Grasindo, 2005), La Runduma (Menpora-CWI, 2005), Ode Kampung (Rumah Dunia, 2006), Uda Ganteng No 13 (GIP, 2006), Menggapai Cahaya (Jmed Palembang, 2006), Aisyah di Balik Tirai Jendela (Bestari-Zikrul Hakim, 2006), Teen World: Ortu Kenapa Sih? (Cinta, 2006). Asal Mula Bukit Batu Bekuray (Ganeca, 2007), Medan Puisi (Labsas, 2007), 142 Penyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2007), Ronas dan Telur Emas (Ganeca, 2008), Tanah Pilih (TSI-Disparbud Jambi, 2008). Saat ini tercatat sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. E-mail: koko_p_bhairawa@yahoo.co.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Puisi Koko P Bhairawa (TSI 1 2008)

Tolong Ceritakan Padaku (lagi)

: unt. Dimas Arika Mihardja


tolong ceritakan padaku (lagi),

kisah tak lelahnya batanghari

menemani remahremah kata dari

tiap sajakmu yang menjejak seusia hidupku

atau kisah tongkang dipinang ayunan gelombang

sebelum kandas oleh putar musim berulang

tak ayal 'ku pun dipaksa berderet antara mesin bermotor

dan orangorang beraroma minyak


tolong ceritakan padaku (lagi),

apakah sungai masih memanen riak sajak

setelah kau dan aku menikmati elok tubuhnya

diamdiam aku terlelap (bermohon)

putri berselendang panjang menjemput (nanti)

di dermaga muaro jambi


tolong ceritakan padaku (lagi),

tentang rakitrakit menjelma rumah

dimana para perempuan setelah telanjang hadir

ditiap pesta bulan di hulu sungai itu

atau kisah bujang kulup bermain gemercik

mimpimimpi setelah dongeng bumi tanah pilih ditutur


- nah, bertumpuk sudah semua,

jadi tolong ceritakan padaku (lagi) -


Grand Hotel (TSI Jambi), 11 Juli 2008





Sebelum Matahari Terbit

: unt. jiwa yang me-rela


tumbuh di tiap jengkal tanah dan gemercik

berintegral dengan peluh

hadir mematri

mencitra kisah ladang hingga binar kota


nanti pada suatu ketika wewangian turun

untuk tiap jiwa yang me-rela- itu


TSI Jambi, 10 Juli 2008


Di Pagi Minggu,

Tiga Puluh Menit Sebelum Take Off

: unt. Alifia Narasita Sibly


jika aku kembali bukan karena cinta,

pasti ada dari organ ini tak rela biarkan

kau sendiri meratapi ringkik batang hari

dengan mata terbuka mencari hulu

dan menelusuri jauh hingga hilir sungai

(lagi) kau senyap menatap


jika aku kembali bukan untuk cinta,

tetap ingin kupastikan

kau tak mengulang kisah pelarian kemarin

diantara peluh sore dan aroma bensin

kutemukan cemas meradang di wajah

(lagi) kau senyap memandang


jika aku kembali,

kembali 'ku tidak juga demi cinta

tetapi dongeng yang pernah kau rentas

dari mimpi sepotong malam

di kaki gunung dataran tanah jawa

lebih merangsangku mengobrak abrik

wacana kegelisahanmu

kau dan aku terlahir dari proses panjang

bernama persetubuhan, tapi (tetap) beda dan

se-beda-nya tak ada alasan diam

menunggu dijemput kisah”


jika aku kembali,

adalah cinta bukan jawaban

serupa pagi kehilangan embun

lantaran tak ada rekam jejak malam (berdua)

disini setumpuk nanas goreng

kita kunyah pada bibir (sama)”


BU. Sultan Thaha, 13 Juli 2008

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Puisi : Di Pagi Minggu





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

SELAIN DIRIMU

selain dirimu, tak ada yang kucintai

air mata dan sesak dada

acap patah di gelap hari

bersama gemertak gigi – kusudahi sesal


selain dirimu, tak ada yang kucintai

semerbak mawar jatuh dipangkal hidung

lalu aromanya merusak – mengobrak abrik

beku hemoglobin di pusar otak


selain dirimu, tak ada yang kucintai

terhempas niat – membelokkan kata

buta aksaraku – beku lisan

lelap pun tak jadi teman


selain dirimu, tak ada yang kuncintai

upzzz...lupaku terlalu tolol

ternyata selain dirimu ada yang kucintai

kucintai ia jauh sebelum tambatan rasa ada

lebih dulu kucintai ia

ia kucintai

: tegak raga degup jantung

putaran darah denyut nadi selalu bertasbih

kucintai ia sebelum dirimu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Puisi : Bercerita Sekawanan Camar 2

Bercerita Sekawanan Camar
episode 2


Malam berganti
sekawanan camar kembali memecah bayangan matahari
memulai cerita pagi tentang hidup generasi Adam-Hawa
yang selama dimensi waktu menjiarahi peradaban
dengan dongeng cinta, mimpi klasik, harapan
dan memainkannya pada panggung bernama dunia
lewat dialog rangkaian kata sarat makna
keluar melalui rongga diafragma dari tiap hembusan nafas

Sekawanan camar asyik memainkan angin
menangkap butir partikel cerita
dari pemuaian ekosistem pasir putih
di mana riak laut senantiasa mencumbui bibir pasir
dan bercanda bersama anak-anak pesisir
meski habitat mereka mulai kehilangan
ketika tiap jengkal pasir diperdebatkan
dan orang-orang ramai meninabobokkan cemara
dengan syair gergaji mesin bahkan
berani menguji keperkasaan karang dengan peledak

Camar-camar bercerita bergantian satu sama lain
camar besar tak mau kalah dengan camar kecil
si kecil tak mau diremehkan
ia punya cerita tentang air mata
anak pesisir selatan yang terlahir karena nestapa
di mana setelah semalaman melaut Bapaknya tak kembali
lantaran malamnya jadi korban bajak laut
dari utara camar besar membawa kisah tragis
tentang Rama yang tenggelam terseret ombak
dan Shinta hanya melihat lambaian terakhir

Sekawanan camar kembali berputar
memainkan angin bersama matahari yang terus meninggi
dan camar tertua mulai menutup cerita
“Utara – Selatan selalu punya cerita bagi
kita yang mendiaminya dari musim ke musim
sebagai sebuah catatan panjang kehidupan”


Catatan: Kemerdekaan dapat diartikan sebagai sebuah kebebasan. kebebasan mengemukakan pendapat dan berekspresi. begitu juga hal yang diinginkan dalam puisi ini. semua memiliki kebebasan untuk mengemukakan pendapat biar dia kecil maupun besar, karena kebebasan, kemerdekaan milik kita semua.


* Puisi ini menjadi pemenang 2 Lomba Cipta Puisi Online 2004, kategori umum,..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Puisi : Bercerita Sekawanan Camar

Bercerita Sekawanan Camar


:episode Tiga


Puisi : Prakoso Bhairawa Putera


pagi baru saja bermula bersama kepak sayap sekawanan camar


mengiring nyanyian anak pesisir yang malu


bercengkerama dengan ombak


dan menarikan saman diantara riak gelombang


yang selalu menjilati telapak mungil mereka




di timur sinar matahari masih satu-dua mencumbui bibir pantai barat Aceh


kepak camarpun terlalu berat buat mengangkasa


tapi interaksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia


telah memaksa bocah pantai berlari


mengemasi ikan-ikan yang tak bisa berenang


lantaran air laut tiba-tiba lenyap


aku tak bisa mencegah mereka”


seekor camar tersudut hampa memandang


perkampungan nelayan yang kini rata




sekawanan camar coba menerbangkan diri lebih tinggi


butir partikel derita anak tanah rencong


memulai hingga ke langit dan mengirim nyeri keseluruh tubuh


di Meulaboh sekelompok camar kecil berputar


ada ribuan malaikat pengangkut roh di sana


berjaga diantara ratap, tangis dan puing tsunami


siap membuat jiwa putih naik ke surga




camar mulai tak sanggup bercerita


dua generasi hilang”


camar besar terbata




cinta para peri ada di mana


pada laut Aceh dengan kapal induk asing


atau pada tanah perjuangan Cut Nyak Dien


dengan dipadati kamp hijau pengungsian


dan ditiap jengkal bumi serambi


telah sesak oleh kuburan massal


sedang rumah pesisir tak bisa diandalkan


camar besar, matahari telah mengirim cahaya


pembasuh tiap rona anak-anak Aceh


daratan telah diluluhlantakkan tapi di hati


mereka tertancap asa keceriaan muda


camar, mari terbang ada yang harus dibangun di sana!”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Sepotong Bulan di Musi

Sepotong Bulan di Musi

Puisi Koko P. Bhairawa

ada yang menari di riak sungai
cahayanya jatuh mencumbui tiap sudut
dari seberang ilir hingga seberang ulu
tapi hanya sepotong tampak olehku
dan pada ruang di bola mata
tak ada lagi motor tempel
yang selalu menjilati musi seperti siang tadi
bahkan rumah rakit di seberang
tempat bengkel karoseri taxi air
hanya terlihat sebentuk cahaya

malam kembali memainkan peran
menjadi saksi bagi rutinitas anak manusia
dari pelataran benteng malam memberikan
sepotong bulan dan bintang di mataku
barangkali ia paham arti perjuagan hingga
tak rela membiarkan hati tersiksa demi cinta
membiarkan perasaan berbohong demi kata sayang
:gelap tak selalu hitam bagi diri

di antara kesendirian malam
ada syair luka yang dikirimkan Musi
sampah telah membuatnya malu untuk bercermin
Musi, kita berdua punya duka yang sama
walau dengan cerita yang berbeda
tapi kau lebih baik
kau jujur akan deritamu
sedang aku bersembunyi di tawa sepanjang tahun

tapi semuanya baru saja ditenggelamkan
di dasarmu dan arus takkan sanggup
membawanya ke seratus anak-anakmu
karena beban yang kulepaskan begitu berat
hingga asa putih dapat terbang ke bulan
untuk menjemput sepaket impian
agar besok di pagi ada kehangatan
dari mimpi yang terwujud
ada lukisan senyum di wajah
dan yang pasti akan ada narasi baru
dengan dirimu di sisiku


Sketsa Asa

Puisi Koko P. Bhairawa


dahulu,
ada sebuah harmoni yang mampu
meruntuhkan tiang di rumah ke sembilan
menenggelamkan susunan batu suci
tempat bersemayamnya kepercayaan pada cinta
yang selama dimensi waktu telah tumbuh
jadi sebentuk bayangan di tiap kesendirian
kuor dari harmoni atas nama kegelapan
membuka pertemuan lubang hitam dan neraka
di rumah; dinding û pintu û bahkan bantal kesayangan
melempar kutukan yang semakin melebarkan luka
menjauhkan mimpi dari rongga malam
bersama jiwa tersudut sepi
menggigilku bersama detik
semalam ada lampu kota yang merayu bulan purnama
angin dan kunang-kunang menari-nari
di atas gedung tinggi menggoyang dan mendekap diri
Tuhan,...Aku mau protes
kembalikan mimpi harapan padaku
tolong berikan padaku sinar yang kau janjikan
aku mau belajar sekali lagi tentang harmoni.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Dan Kau Telah Temukan

Apakah kicau burung-burung di kala pagi lebih baik dari pada teriakan mesin-mesin tambang di sisi utara perkampungan.

Aku satu dari sekian banyak manusia yang kerap menemukan suara-suara tak jelas ketukan atau syair-syair tanpa pencipta yang didendangkan oleh penghuni di sisi lain pulau itu.

”Yah, beginilah pulauku. Sebuah daratan yang terbentuk dari gumpalan-gumpalan pasir hitam yang kemudian kukenal dengan sebutan timah--begitupun pasir putih yang begitu mempesona, hingga bisa menambah daratan di negeri singa yang mampu menukar butihan pasir dengan wewangian lembaran bernilai.”

”Usss.....ssss, jangan keras-keras berkata nanti terdengar angin--lalu disampaikanya pada penghuni lain!” suara lirih menggoda.


”Lalu salah jika mocong ini berbunyi dan mengeluarkan rangkaian kata yang sedikit pedas?”

”Kurasa tak terlalu, mungkin lebih pedas cabe yang tergigit tadi—karena cepat terasa dan langsung membutuhkan gula atau air sebagai penawar.” bisik mulai menggerogoti ruang di telinga kiri.

”Ah...., sudah jangan kau panasi suasana yang sudah semakin akut. Kepadatan penghuni jalanan cukup membuat orang-orang merasa lelah termasuk dia, jadi bila kau tambahkan dengan bumbu tadi maka habislah cerita kita—karena ia akan pergi ke negeri dongeng dan bercumbu dengan kekasihnya.” lirih suara menggoda.


”Ehm...aku tak mau ke negeri dongeng—karena semua disana hanya khayal dan ketika tersadar semua yang kutinggalkan semakin bertambah, jadi lebih baik aku ikut melewati semuanya dengan mata terbuka tetapi mulat tak menganga.”

Helai kain yang menutup diri lepas satu persatu dan jatuh di lantai yang mulai berganti warna bersama potong bulan yang semakin meninggi.

”Zzzz,...”

”Hei, kenapa kau terdiam?” bisik pindah di telinga sebelah kanan.

”Aku terjebak dalam keliaran malam yang menjemput, bulan diatas sana mungkin tersenyum padaku, kutemukan kau dalam rinai air mata yang jatuh dipundak dan ingin kuhantarkan hangat pada jiwa yang hampa.”

”Sebenarnya menatapmu dalam mimpipun aku menjadi lelah, mata terlalu cepat jatuh dan kehilangan selera. Ups..ada yang bertanya pada bisik di gelap hari—aku ada dimana ketika rasa mulai tertambat?”


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)