Tampilkan postingan dengan label berita pilihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita pilihan. Tampilkan semua postingan

Aliansi Sastrawan Indonesia Terbentuk

Sebuah lembaga baru, Aliansi Sastra Indonesia (ASI), lahir di Jambi. Lembaga yang akan bergerak di bidang advokasi sastra itu dihasilkan oleh Musyawarah Sastrawan Indonesia dalam rangka Temu Sastrawan Indonesia (TSI) I, yang berlangsung di Jambi, 7-11 Juli 2008.

Selain membahas berbagai persoalan sastra, TSI I juga diskenario untuk melahirkan sebuah wadah sastra baru. "Banyak persoalan sastra dan sastrawan yang belum tertangani oleh wadah-wadah sastra yang telah ada. Dari TSI kami berharap dapat lahir wadah baru yang dapat ikut menangani persoalan-persoalan itu," kata Ketua Pelaksana TSI I, Dr Sudaryono MPd, yang juga dikenal sebagai penyair Dimas Arika Miharja.

Dari keinginan itulah kemudian, melalui sidang pramusyawarah yang dipimpin oleh Firdaus, dibentuk Tim Perumus yang terdiri dari Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Afrion, Ahmadun Yosi Herfanda, Atik Sulistyowati, Bambang Widiatmoko, Firdaus, Fadlillah, Joni Ariadinata, Koko P Bhairawa, Kartini Nurdin, Tan Lio Ie, Triyanto Triwikromo, dan Wahyu Sunan Kalimati.

Melalui sidang yang cukup alot, di Grand Hotel, Tim Perumus menghasilkan tiga rekomendasi. Pertama, perlu dibentuk wadah baru sastra yang mefokuskan kegiatannya pada advokasi sastra untuk membela kepentingan sastrawan. Kedua, Temu Sastrawan Indonesia perlu diteruskan sebagai forum tahunan bagi sastrawan Indonesia. Dan, ketiga, perlu ada sistem kurasi untuk meningkatkan kualitas temutemu sastra yang kini makin banyak diadakan di berbagai kota dan daerah.

Rekomendasi itulah yang kemudian dibawa ke Musyawarah Sastrawan Indonesia TSI I, yang juga berlangsung di Grand Hotel, 9 Juli 2008. Musyawarah akhirnya menyepakati bahwa TSI akan diteruskan sebagai forum tahunan, dan pembentukan Aliansi Sastra Indonesia (ASI) yang memfokuskan aktivitas pada advokasi sastra.

Disepakati pula bahwa TSI II akan dilaksanakan di Provinsi Bangka Belitung pada tahun 2009, dan TSI III akan dilaksanakan di Provinsi Sumatra Selatan pada tahun 2010.

Untuk peningkatan kuantitas dan mutu TSI pada pelaksanaan berikutnya, disepakati pula perlunya penggunaan kurator untuk mengkurasi hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan acara, baik dari sisi tema, konsep pertunjukan, dan hal-hal lain yang relevan.

Selain itu, untuk merealisasikan pembentukan Aliansi Sastra Indonesia maka dipandang perlu melaksanakan pertemuan khusus untuk membahas kelengkapan statuta organisasi, dan kelengkapan lainnya.

Keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan TSI berikutnya kemudian dituangkan ke dalam rekomendasi yang ditandatangani oleh wakil Tim Perumus Acep Zamzam Noor dan Ketua Pelaksana TSI I Dr Sudaryono MPd. Rekomendasi akan disampaikan kepada Pemda Provinsi Bangka Belitung dan Sumatra Selatan untuk melaksanakan TSI II dan III di provinsi masing-masing.

Selain musyawarah sastrawan, TSI I yang diselenggarakan oleh para sastrawan Jambi bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi itu juga diisi seminar sastra, workshop, dan Panggung Apresiasi. Seminar berlangsung dua hari (7-8 Juli) di Grand Hotel. Workshop juga berlangsung pada 7-8 Juli di Balai Bahasa Provinsi Jambi, dengan pemateri Maman S Mahayana dan Agus R Sarjono.

Sedangkan seminar sastra berlangsung pada 8-9 Juli di Grand Hotel, menampilkan sembilan pembicara dari berbagai daerah, yaitu Haris Effendi Thahar, Suminto A Sayuti, Sunaryono Basuki, Korrie Layun Rampan (tidak hadir), Kartini Nurdin, Ahmadun Yosi Herfanda, Hary S Harjono, Ahda Imran, Afrizal Malna, dan Maizar Karim. Mereka membahas berbagai persoalan sastra terkini, sejak capaian estetik, tradisi kritik, sampai peran media massa.

Menjelang Musyawarah Sastrawan Indonesia juga disampaikan wacana pengantar dengan topik HAKI untuk Karya Sastra Indonesia oleh Abdul Bari Azed, Advokasi Sastra dan Sastrawan Indonesia oleh Fadlillah, dan Wadah Sastrawan Indonesia, Filosofi dan Organisasi oleh Acep Zamzam Noor.

Panggung apresiasi pada 8-9 Juli di Taman Budaya Jambi dimeriahkan berbagai pertunjukan menarik. Putu Wijaya memukau penonton dengan monolog Kemerdekaan -- diangkat dari cerpen Kemerdekaan yang pernah dimuat Harian Republika tahun 1995. Sementara, Jose Rizal Manua, Asrizal Nur, Cory Marbawi, EM Yogiswara, Asro Almurthawi, Tan Lioe Ie, Thomson HS, Irmansyah, Pendra Darmawan, Didin Soroz, dan penyair-penyair lain, menggetarkan penonton dengan sajak-sajak mereka.

Panggung apresiasi pada malam pertama juga dimeriahkan pertunjukan musikalisasi puisi Teater Etno, musikalsisasi puisi Teater Air, tari oleh Teratak Anak Indonesia pimpinan Tom Ibnoer, teater tutur Dideng dari Kabupaten Bungo, dan teater tutur Pantau dari Kabupaten Sarolangun. Pada malam kedua juga dimeriahkan pentas tari Sanggar Sakintang Daya, teater tutur Senandung Jolo dari Kabupaten Muaro Jambi, musikalisasi puisi oleh Teater Alif, teater tutur Kíba dari Kabupaten Kerinci, dan musikalisasi puisi oleh Teater Oranye.

Acara pembukaan (dibuka oleh staf ahli gubernur Jambi, Junaidi T Noor) dan penutupan (ditutup oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Muallimah Radhiana MPd) di Grand Hotel juga dimeriahkan berbagai pertunjukan seni, seperti seni Mindulahin, pentas tari Teratak Indonesia, baca puisi oleh Didin Siroz, serta pentas teater tutur dan musik krinok dari Kabupaten Tebo. TSI juga diwarnai peluncuran buku kumpulan puisi Tanah Pilih, pameran dan bazar, serta wisata budaya ke situs Candi Muaro.

Menurut Sudaryono, TSI diikuti sekitar 150 sastrawan dari seluruh Indonesia. Menurut salah satu penggagas TSI, Ja'far Rassuh, Jambi dipilih sebagai tempat penyelenggaraan TSI I, karena Jambi merupakan salah satu pusat kebudayaan Melayu kuno. "Dari pertemuan ini, kami berharap pemikiran sastra akan makin berkembang," kata Dra Hj Muallimah Radhiana MPd, ketua umum TSI.

Melalui TSI I, seperti diharapkan Panitia, Jambi telah mencatatkan diri sebagai provinsi yang melahirkan wadah baru sastra ' ASI ' yang akan bergerak di bidang advokasi sastra. Selain itu, Jambi juga melahirkan event baru sastra —TSI— yang akan digelar tiap tahun, untuk menambah maraknya event sastra di Tanah Air. ayh

Sumber: http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/72/news_id/4514

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Inflasi 0,51 persen (Agustus 2008)

Source : Biro Pusat Statistik

Pada bulan Agustus 2008 terjadi inflasi sebesar 0,51 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 112,16. Dari 66 kota, tercatat 60 kota mengalami inflasi dan 6 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Mamuju 3,21 persen dengan IHK 117,56 dan terendah terjadi di Pematang Siantar 0,02 persen dengan IHK sebesar 111,49. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kupang 0,97 persen dengan IHK 110,77 dan terendah terjadi di Kendari 0,06 persen dengan IHK 114,79.


Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok- kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 0,94 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,59 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,53 persen, kelompok kesehatan 0,56 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 1,36 persen. Sedangkan kelompok barang dan jasa yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok sandang 0,53 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,01 persen.


Laju inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) 2008 sebesar 9,40 persen, sedangkan laju inflasi "year on year" (Agustus 2008 terhadap Agustus 2007) sebesar 11,85 persen

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Peringkat 25 di TOP Seratus Agustus 2008

Akhirnya bisa masuk TOP seratus blog di Indonesia, berdasarkan http://www.topseratus.com, TopSeratus.com 100 merupakan peringkat blog Indonesia terbaik yang paling ramai dikunjungi, keren, cool, popular, hebat, laris, heboh dan tentunya yang paling nge Top dan terkenal.


Top Seratus
menghitung peringkat berdasarkan jumlah pengunjung yang datang dari Blog/Situs anggota, dengan asumsi semakin ramai suatu blog, semakin banyak yang meng-klik link ke TopSeratus dari situs tersebut. Sistem TopSeratus di reset setiap awal bulan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Gaji PNS Naik

Kabar baik bagi pegawai negeri sipil (PNS), TNI-Polri dan pensiunan. Mulai tahun 2009 gaji naik 15 persen. Selain itu juga diberikan gaji ke-13. Kabar mengembirakan itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Rapat Paripurna DPR, dengan agenda pembukaan masa persidangan I DPR RI, Pidato Kenegaraan Presiden mengenai kemerdekaan dan Rancangan Undang-Undang tentang RAPBN Tahun Anggaran 2009, Jumat (15/8) pagi. “Selama 4 tahuan masa pemenrintahan ini, pendapatan PNS, golongan terendah telah kita tingkatkan dua kali lipat, dari sebelumnya sebesar Rp674.000 perbulan pada tahun 2004 menjadi Rp1.721.000 pada tahun 2009 mendatang,” kata Presiden.

Menurut Presiden, perbaikan kinerja birokrasi dan peningkatan layanan kualitas publik harus ditingkatkan, untuk itu dialokasikan anggaran belanja pegawai sebesar Rp143,8 triliun atau naik sekitar Rp20,2 triliun.

Presiden mengemukakan, tambahan alokasi anggaran pendidikan sebesar Rp46,1 triliun akan digunakan antara lain untuk meningkatkan penghasilan guru dan peneliti, ini berarti pendapatan guru golongan terendah pada tahun depan akan meningkat menjadi di atas Rp2 juta.

Seharusnya 20 persen

Sementara itu Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR RI, Harry Azhar mengomentari kenaikan belanja pegawai sebesar Rp20,2 triliun itu mengatakan, kenaikan 15 persen masih belum bisa mengatasi kenaikan harga akibat inflasi.

Saya sebenarnya berharap kenaikan sampai 20 persen, tapi panitia anggaran DPR bersama pemerintah sudah menyepakati 15 persen,” kata Harry.

Menurut dia, gaji pegawai negeri memang belum naik selama dua tahun, padahal kenaikan harga akibat inflasi tahun lalu mencapai 6,5 persen dan inflasi tahun ini diperkirakan sampai 11,4 persen, sehingga total inflasi selama dua tahun mencapai 17,9 persen.

Angka 15 persen belum cukup,” kata anggota Fraksi Golkar itu.

Ia juga menyebutkan, gaji perencana dan peneliti sudah seharusnya dinaikkan lebih besar lagi.

Jangan hanya gaji pegawai di bidang pengawasan saja yang naik. Kerja-kerja yang menggunakan potensi otak juga perlu perhatian khusus,” katanya sambil menambahkan bahwa gaji guru dan dosen direncanakan memang naik.

Gaji guru

Sementara itu Mendiknas, Bambang Sudibyo kemarin mengatakan, rencana pemerintah untuk menaikkan gaji guru pada 2009 masih memerlukan perhitungan lebih lanjut.

Kita masih merencanakan penggunaan tambahan anggaran pendidikan sebesar Rp46 triliun,” katanya.

Presiden SBY sebelumnya menyebut, pada tahun 2009 Departemen Pendidikan Nasional direncanakan memperoleh anggaran sebesar Rp52 triliun.

Alokasi ini belum mencakup tambahan anggaran pendidikan sebesar Rp46,1 triliun yang kami usulkan pada Nota Keuangan Tambahan,” kata Presiden.

Menurut Mendiknas, penggunaan alokasi anggaran tambahan pendidikan sebesar Rp46,1 triliun tersebut bukan hanya di tangan Depdiknas namun memerlukan perhitungan lintas departemen.

Ketika ditanya usulan Depdiknas mengenai rencana kenaikan gaji guru, Bambang menyatakan, setelah penghitungan antar departemen maka Menteri Keuangan akan memutuskan berapa alokasi tambahan pendidikan ke Diknas, untuk Depag ataupun ke daerah. o*/004

Sumber : Harian Singgalang, Sabtu 16 Agustus 2008

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (2)

Majalah BISKOM Edisi Agustus 2008


Cover Majalah BISKOM kali ini menampilkan Bapak Budi Rahardjo, Pakar Security dan Dosen ITB (Terima kasih kepada Bapak Budi Rahardjo yang juga turut mendukung Majalah BISKOM).
Dalam kesempatan ini, kami sekaligus menawarkan kepada seluruh pembaca untuk dapat bekerjasama yang saling menguntungkan dengan Majalah BISKOM, baik berupa pengiriman artikel tentang TI, mengadakan seminar, workshop dan pameran serta kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan dunia TI.

Topik menarik Majalah BISKOM Edisi Agustus 2008 diantaranya:

· COVER STORY: Pakar Security dan Dosen ITB, Budi Rahardjo, Ketersediaan Bandwidth Batasi Distribusi Musik Digital

· FIGURE:
- Psikolog dan Akademisi, Sarlito Wirawan Sarwono, Atasi Masalah Lewat Konsultasi Online
- Marketing Director PT Intech Surya Abadi, Teddy Tjan, DeskBook Hemat Energi
- Vice President Director PT Ceria Indonesia, Yan A. Harahap, Ceria Games: Permainan Edukatif
- Creative Director Main Games, Andi Martin, Pertumbuhan Game Developer Lokal Masih Slow

· HEADLINE:
- Indonesia Menuju TI Merdeka
- Pendidikan, Aspek Utama Kemerdekaan TI
- Robotika dan Kecerdasan Buatan di Era Kemerdekaan TIK

· FOCUS:
- NFC, Transaksi Via Ponsel
- Micro Payment Seluler Mulai Nge-Trend
- Saatnya Kampanye Sehat!
- Penjualan Musik Digital Tekan Penjualan CD
- Pemerintah dan Operator Kembangkan Akses Telepon Daerah
- Netbook, Ringkas dan Murah
- Notebook Murah Pengaruhi Pertumbuhan Broadband

· SNAP:
- XL, Perusahaan Berbasis Pengetahuan
- Anggota Polri Kembali Raih Doktor UI
- BPPT Gelar Seminar Transfer Teknologi
- Menegristek Adakan Audiensi Dengan AOSI
- Layanan Esia Rambah Purwokerto
- WGT 2008 Dilaksanakan
- Pendapatan Seagate Naik 12%
- INAICTA 2008 Adakan Penjurian Karya Anak Bangsa
- Be-Mall Adakan Hobbies & Toys Fair

· RESENSI:
- Be Negative Session 2, Penulis: Naomi Susan & Agung Widyatmoko
- Keynote, Panduan Membuat Presentasi di Mac, Penulis: Dirgayuza Setiawan

· INSPIRATION:
- Idris Asmuni: Mengelola Chain Value Pada Perusahaan Industri
- Hemat Dwi Nuryanto: Solusi e-Broadcasting Pada Pameran Industri Telematika
- Bambang Dwi Anggono: Helpdesk e-Government
- Dirgayuza Setiawan: Merdeka Dengan BlackBerry di Indonesia
- Prakoso Bhairawa Putera S.: Merdekakan Daya Saing Iptek Nasional
- Bob Julius Onggo: Demam Thomas Cup

· REVIEW & TRIAL:
- Gigabyte M704
- Hasselblad H3DII-50 25
- Philips 7000 dan 9000 Series
- Genius G-Pen M609
- Kingston Terra Cotta
- Kodak Zi6
- AOC 2230Fm
- D-Link DAP-1150
- Sony HDR-TG1
- Philips X800
- Motorola W230
- Asus P750
- Palm Treo 800w

Dapatkan Majalah BISKOM di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung atau berlangganan melalui Bagian Sirkulasi Majalah BISKOM.

Untuk review, ujicoba, update harga produk dan kegiatan perusahaan Anda, hubungi redaksi[at]biskom.web.id

sumber : Biskom edisi Agustus 2008

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Indonesia di Urutan 54, Tingkat Daya Saing Global

JAKARTA : Peringkat Indonesia dalam daya saing global pada 2008 kembali turun, dan berada di urutan 54 dari 75 negara yang disurvei World Economic Forum. Pada 2006, posisi Indonesia masih berada pada peringkat 51.

“Liberalisasi perdagangan dan investasi telah merupakan tuntutan global sehingga negara berdaya saing rendah akan semakin tertinggal,” ujar Dr Dewi Fortuna Anwar, Deputi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI dalam Seminar AmTeQ 2008 di Serpong, Selasa (22/7).

Di sisi lain, kata Dewi, masalah politik di dalam negeri bagi Indonesia, juga Filipina, ternyata sangat menentukan terhadap tingkat persaingan global. Hal itu terlihat dari peringkat Indonesia yang turun drastis saat memasuki krisis politik.

Kendati pada krisis ekonomi 1998 tingkat daya saing Indonesia sangat turun, namun, kata Dewi, beberapa tahun kemudian mulai menunjukkan perbaikan. “Pada 2000 , Indonesia sudah berada di urutan 44, namun 2001 anjlok di urutan 64, dan terus menurun di urutan 67 pada 2002, karena terjadi krisis politik saat itu,” ujarnya.

Sementara di lingkungan ASEAN, tingkat daya saing Indonesia saat ini juga masih dibawah Thailand, Malaysia, dan Singapura. Bahkan, jika dibandingkan dari sisi jumlah penduduk, Indonesia juga berada di urutan terbawah dibandingkan RRC (rangking 34) dan India (rangking 48).

Menurut Dewi, rendahnya daya saing global dapat terlihat dari indikator produk-produk ekspor Indonesia kurang laku dijual di luar negeri, sementara pasar dalam negeri dikuasai produk-produk impor. Selain itu, Indonesia juga kurang diminati para investor. "Pertumbuhan ekonomi akan tersendat sehingga akan mengakibatkan krisis berkepanjangan," ujarnya. (Lea)

Sumber : http://www.technologyindonesia.com/news.php?page_mode=detail&id=1125

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Temu sastrawan Indonesia, Jambi 2008

Dari senarai batanghari dan tanah pilih sampai gemuruh pada pemilik teduh

Oleh AFRION

BUNGA rampai Cerpen Indonesia bertajuk Senarai Batanghari memuat 13 judul cerpen diterbitkan dalam rangkaian pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia I, (7-11 Juli 2008) di Jambi. Disebutkan bahwa Senarai merupakan semacam kisah pendek yang dituturkan atau semacam bunga rampai yang berisi aneka kisah kehidupan. Sedangkan Batanghari merupakan nama sungai terpanjang di Jambi, dikiaskan bagai seekor naga dari selatan yang merepresentasikan kejayaan Melayu. Seekor naga yang menggeliat di tengah kemajuan peradaban, bergerak pelan dengan ketenangan airnya yang kuning kecoklatan.

Senarai Batanghari dengan berbagai sudut pandang yang menyoroti sisi baik dan sisi buruk dengan latar lingkungan fisik, lingkungan biologis, dan lingkungan sosial. Mereduksi kembali latarbelakang kebudayaan, mengkritisi keberadaan alam dan nilai hidup manusia. Membuka wacana kesadaran berpikir dengan berbagai metafor kekinian termasuk persoalan yang sedang mengancam ekosistem makhluk hidup di bumi. Keberagaman tema dan pola ucap mengaktualisasikan persoalan kehidupan sehari-hari. Mulai dari Secangkir Kopi Penuh Dusta oleh Atik Sulistyowati sampai Serau oleh Yupnikal Saketi. Peristiwa yang mengesankan itu, mengandung makna manusia dalam konteks sebagai makhluk sosial memahami realitas alam, naturalisme alam, tanah, udara, dan air. Mahakam di Kalimantan Timur merupakan saksi kunci dalam cerpen Atik Sulistyowati (seperti halnya Batanghari di Jambi) yang menawarkan selaksa eksotika bumi penuh pesona, menghanyutkan kita untuk tak beranjak pulang. Kecuali kegelapan yang makin erat mengikat kita dalam lautan perasaan.

Sedangkan bunga rampai puisi Indonesia “Tanah Pilih” yang memuat 74 karya puisi dari Acep Syahril sampai Yvonne De fretes (sesuai abjad), melakukan penjelajahan yang memberikan tawaran-tawaran kreatif dan inovatif. Kreativitas penyair berekspresi lewat puisi-puisi naratif, ekspresif, imajis, dan liris, setidaknya telah mencatatkan namanya dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia dengan konteks lokalitas. Dra. Hj. Mualimah Radhiana M.Pd selaku kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jambi sebagai pemrakarsa sekaligus penyandang dana penyelenggaraan acara Temu Sastrawan Indonesia, memandang perlunya keberagaman ekspresi sastrawan ini terwadahi. Salah satunya menerbitkan buku bunga rampai 13 cerpenis Indonesia bertajuk “Senarai Batanghari” dan 74 puisi dari sastrawan Indonesia bertajuk “Tanah Pilih”, serta mengundang 14 budayawan sebagai pemakalah.

Gagasan meningkatkan kunjungan wisata “Visit Jambi 2008” yang kini digalakkan oleh pemerintah provinsi Jambi cq Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jambi, lebih kepada penataan kota dan situs-situs sejarah. Selain melakukan penataan Candi Muara Jambi, melaksanakan even tingkat nasional, juga menerbitkan buku-buku sastra yang berkaitan dengan kota Jambi. Menelusuri objek wisata sungai Batanghari menuju Candi Muara Jambi, di atas “ketek” (sarana angkutan sungai) seakan berada di atas seekor naga besar yang gagah perkasa. Sungai Batanghari yang menggeliat di tengah kemajuan peradaban tanah Melayu, menyimpan situs sejarah sepanjang pinggiran sungai. Perjalanan yang mengesankan menghapus rasa penat dan kelelahan berpikir selama lebih dari 4 hari memperbincangkan pengambangan mutu sastra dengan segala permasalahannya di Indonesia dalam sesi diskusi yang dilakukan secara maraton dari mulai pagi hingga petang.

Berbagai persoalan sastra Indonesia diperdebatkan. Mulai dari pemetaan estetika sastra, orientasi kebebasan berekspresi, tradisi kritik sastra dalam masyarakat yang anti kritik, kebijakan penerbitan dan pembelajaran karya sastra Indonesia masa kini, dibicarakan dengan simpulan sederhana. Bersamaan itu pula dilakukan musyawarah sastrawan dengan agenda pembentukan sebuah lembaga yang memfokuskan aktivitasnya pada advokasi sastra. Rapat tim perumus advokasi sastra ini kemudian menetapkan terbentuknya Aliansi Sastra Indonesia dengan Surat Keputusan nomor 001/SK/JBI/VII/2008. Untuk merealisasikan pembentukan Aliansi Sastra Indonesia, dalam waktu yang tidak terlalu lama akan dilaksanakan pertemuan khusus membahas kelengkapan statuta organisasi dan susunan kepengurusan.

Tim perumus advokasi sastra terdiri dari Acep Zamzam Noor, (Jawa Barat), Afrizal Malna (Yogyakarta), Joni Ariadinata (Solo), Ahmadun Yosi Herfanda, Kartini Nurdin (DKI Jakarta), Afrion (Sumut), Atik Sulistiowati (Kaltim), Fadillah (Sumbar), Firdaus (Jambi), Koko P Bhairawa (Sumsel), Wahyu Sunan Kalimati (Sulsel), Triyanto Triwikromo (Semarang), Tan Lio Ie (Bali), dan Bambang Widiatmoko (Jabodetabek). Pembentukan Aliansi Sastra Indonesia didasarkan pada makin banyaknya persoalan yang dihadapi sastrawan, khususnya dalam hal menciptakan ruang kebebasan berekspresi. Dengan terbentuknya lembaga ini diharapkan memiliki bargaining power dan bargaining position, yang menempatkan sastrawan sebagai mitra pemerintah, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Ketertindasan sastra yang selama ini dirasakan membelenggu kebebasan berekspresi, mulai dari rejim Orde Lama dengan demokrasi terpimpin di bawah komando Presiden Soekarno, yang memposisikan seni sebagai alat revolusi, lalu pada zaman rejim Orde Baru di bawah pemerintahan militer Presiden Soeharto pada awal 1970-an, yang lebih mementingkan politik pembangunan dan membatasi kebebasan berekspresi seniman.

Selanjutnya di era reformasi, pintu kebebasan berekspresi terbuka luas. Berkenaan dengan itu, pengembangan seni budaya untuk masa depan diarahkan membangun semangat kebangsaan, mewujudkan identitas keindonesiaan melalui akar tradisi sebagai jati diri bangsa berseni, berbudaya, bernurani dan bernalar. Nalar dalam berucap dan bertindak adalah aktivitas yang memungkinkan kita berpikir logis menjangkau keberadaan bumi dengan segala isi dan keterbatasannya. Pada intinya bumi sebagai pusat kehidupan mempengaruhi pola hidup dan pola pikir manusia. Pencarian makna dalam kehidupan, tidak hanya mengandung misteri yang terasa transendental, tapi juga begitu ritmis memasuki wilayah kedaulatan individu. Sebanyak 64 judul puisi Nur Hilmi Daulay berkisah tentang nalar manusia bertajuk Gemuruh; pada pemilik teduh, yang resmi diluncurkan bersamaan dengan acara panggung apresiasi sastra (9 Juli 2008) di taman Budaya Jambi. Buku ini merupakan gejolak diri dari seorang penulis wanita asal Medan. Ia datang ke Jambi dengan keberanian dan semangat memasuki wilayah kesastraan Indonesia.

Dengan kepekaan naluri dan cinta yang bergelora, baginya kehidupan sepanjang usia memahami setiap perubahan, menaklukan rintangan, merasakan nikmat karunia. Dari dunia kegelapan menuju cahaya senantiasa membawa diri mencapai impian, namun diri terkadang tidak mampu memaknai hukum sebab akibat yang terjadi. Ketika tubuh setiap kali meniupkan terompet kematian sebagai pertanda akhir hidup, roh dijemput malaikat pencabut nyawa, maka tubuh akan meninggalkan kenangan dan juga warisan. Sebaliknya kematian sebagai bentuk penyerahan diri kepada sang maha pencipta langit dan bumi, adalah bagian dari pertanggungjawaban. Sebuah warisan, tidak berarti karena adanya kematian. Warisan adalah sejarah yang akan hidup sepanjang masa.

Warisan ditinggalkan kepada kita tanpa surat wasiat, demikian Karlina Leksono Supelli mengutip ungkapan Rene Char Arendt penyair Perancis dalam bukunya Between Past and Future. Suatu keadaan yang memperlihatkan peradaban kebudayaan yang ditinggalkan dalam pertarungan menjaga warisan masa lalu di masa depan. Hal yang tak dapat dihindari setiap generasi, karena kehadirannya tidak mungkin menyangkal adanya kesinambungan sejarah. Maka bunga rampai Cerpen dan puisi Temu Sastrawan Indonesia I dari Senarai Batanghari, dan Tanah Pilih sampai Gemuruh; pada pemilik teduh diharapkan menjadi sebuah peninggalan warisan sejarah yang kelak menjadi cermin untuk melihat perkembangan kreatifitas masa lalu di masa depan.

Sumber : WASPADA, 27 Juli 2008

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Kaum Muda, Asa, dan Perubahan

Rama Pratama
Ketua Umum GEMA KEADILAN

Slogan “Harapan dan Perubahan” menjadi tema kampanye Barack Obama pada pemilihan presiden di AS. Dengan tema ini, Obama mampu membangkitkan histeria massa sehingga dukungan kepadanya begitu luar biasa.

Dukungan terhadap Obama tidak hanya datang dari warga AS yang menginginkan perubahan. Dukungan itu juga bergema di seluruh dunia termasuk Indonesia. Bahkan, di Indonesia ada perkumpulan tersendiri yang memberikan dukungan atas tampilnya Obama dalam pemilihan.

Apa yang terjadi pada fenomena Obama menunjukkan bahwa masyarakat AS begitu mengharapkan angin perubahan. Masyarakat AS sudah bosan dengan kebijakan yang telah menyeret anak-anak mereka ke ladang pembantaian di Irak dan Afghanistan. Mereka mulai bosan dengan kebijakan ekonomi negara yang membuat mereka harus antre mendapatkan kebutuhan sehari-hari akibat kebijakan Pemerintahan Bush yang mengonversi bahan pangan menjadi energi.

Kita menyaksikan demam Obama menggejala di mana-mana. Meski spirit Obama menggetarkan kaum muda Indonesia, itu belum cukup membawa mereka pada satu keberanian menantang pendahulunya dalam kompetisi kepemimpinan bangsa. Berbagai survei menunjukkan kaum muda belum tampil secara maksimal sehingga belum dapat diidentifikasi oleh masyarakat sebagai orang yang layak untuk memimpin bangsa.

Kongres Majelis Pemuda Indonesia sebagai acara pemanasan menuju Kongres Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang digelar di Riau 22-24 Juli 2008 diharapkan menelurkan formulasi bagi tampilnya kaum muda pada level kepemimpinan nasional. Bagaimana pun, KNPI sebagai wadah berhimpun berbagai organisasi massa kepemudaan memiliki potensi dan sekaligus tanggung jawab yang besar untuk melahirkan kepemimpinan nasional yang berasal dari kaum muda.

Modal sejarah
Tahun ini tepat 80 tahun kaum muda Indonesia merayakan peristiwa bersejarah mengenai kesadaran akan pentingnya berhimpun dalam satu bangsa, satu nusa, dan satu bahasa, yang bernama Indonesia. Kesadaran ini lahir sebagai antitesis politik Belanda yang memecah-belah sebuah bangsa besar yang hidup di Nusantara. Dengan mengikrarkan sumpah pemuda, sesungguhnya pemuda saat itu menunjukkan kapasitas dan kesiapannya untuk menjadi pemimpin bangsa.

Gagasan sumpah pemuda merupakan narasi besar yang mendorong manusia di Nusantara terbawa arus perubahan yang tak terbendung. Orang-orang yang hidup dengan berbagai bahasa dengan kesadarannya belajar dan mau menggunakan bahasa Indonesia. Narasi besar kaum muda tidak berhenti di situ. Mereka juga mewujudkannya dalam satu langkah besar, yakni deklarasi Indonesia merdeka.

Sejarah mencatat jika pemuda tidak mendesak Soekarno dan Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia tahun 1945 mungkin sampai saat ini Indonesia masih terjajah. Indonesia merdeka adalah narasi besar yang hinggap di seluruh sanubari rakyat Indonesia sehingga mereka rela berkorban untuk Indonesia merdeka.

Peran pemuda Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan, tidak terbantahkan lagi. Jejak sejarah kaum muda pascakemerdekaan dapat kita lihat misalnya ketika Sudirman menjadi jenderal pertama dan sekaligus panglima di republik ini dalam usia masih sangat muda. Sudirman adalah kaum muda yang telah memimpin pergerakan Indonesia melawan Belanda dengan keberanian, kecerdasan, dan keikhlasan yang luar biasa sehingga pantas jika namanya begitu melegenda.

Dengan prestasi kaum muda Indonesia ini, tidak berlebihan jika Ben Anderson, pengamat politik Indonesia, meyakini sejarah Indonesia adalah sejarah pergerakan kaum muda. Dalam setiap fase sejarah, kepemimpinan kaum muda adalah motor penggerak perubahan zaman. Ben Anderson mengatakan, “Akhirnya saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda ini.” Apa yang telah disimpulkan oleh Ben Anderson sedianya cukup bagi kaum muda untuk berani bergerak ke tengah dan berkompetisi merebut kepemimpinan bangsa. Kaum muda memiliki modal sejarah yang sangat besar bagi kelahiran dan pembangunan bangsa.

Sudah tiba masanya kaum muda tidak hanya berhenti menjadi saksi perebutan kursi yang dilakukan kaum tua. Bukan lagi waktunya kaum muda hanya bertindak sebagai operator dari generasi yang terbukti gagal, kemudian berusaha merebut kekuasaan kembali. Tetapi, harus mampu melahirkan generasi kepemimpinan baru yang lebih mampu memberi harapan dan perubahan. Itu tidak lain ada di tangan kaum muda Indonesia.

Harapan Indonesia
Media massa secara lengkap telah menceritakan berbagai derita anak bangsa serta paradoks yang muncul. Misalnya, di saat negara surplus beras dan merasa perlu untuk ekspor, pada saat yang sama sebagian rakyatnya justru sedang berjuang melawan lapar. Tak terbayangkan bagaimana ketika negara begitu gencar melakukan kampanye antikorupsi, pelaku korupsi justru aparatnya sendiri.

Berbagai paradoks itu muncul karena perilaku lama yang tidak sesuai dengan semangat baru masih memiliki kuasa atas kepemimpinan di negeri ini. Meski banyak bukti sejarah menunjukkan peran pemuda meraih kejayaan bangsa, sepertinya sederetan bukti itu tidak cukup bagi elite lama menempatkan pemuda sebagai human capital bagi negeri ini.

“Setiap massa ada orangnya”, begitu pepatah Arab mengatakan. Ketika bangsa ini terpuruk oleh beragam citra negatif di dunia internasional, seperti citra pelanggar HAM, negara terkorup, negara dengan tingkat daya saing rendah, dan berbagai citra negatif lainnya, kaum mudalah yang dapat diandalkan mengklarifikasi semua citra negatif itu dengan prestasinya. Kaum muda berkali-kali diharapkan melakukan perubahan dan menjaga eksistensi citra baik Indonesia.

Kita menyaksikan seorang anak penjual rokok kaki lima di Bekasi, misalnya, telah mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional dengan menjadi juara catur dunia tahun 2007 di Yunani. Beberapa siswa terbaik kita juga menjadi juara olimpiade fisika.Olahraga juga lebih hebat dengan hadirnya beberapa atlet muda berbakat yang menjuarai beberapa cabang. Sedianya semua itu menjadi inspirasi untuk dapat memberikan peran kepemimpinan yang lebih besar bagi kaum muda.


Yang muda yang berkuasa
Bergulirnya reformasi telah mengubah banyak hal dalam kehidupan. Perubahan itu hendaknya mendorong kaum muda untuk dinamis dan cerdas membaca realitas zaman. Tentu tidak mungkin menggunakan paradigma lama untuk menyelesaikan persoalan hari ini. Sebagaimana dikatakan oleh Peter Drucker, seorang ahli manajemen modern, masalah terbesar dalam menghadapi krisis bukan terletak pada krisis itu sendiri. Masalah terbesar adalah ketika kita menyelesaikan krisis hari ini dengan logika masa lalu.

Kaum muda Indonesia perlu berkaca pada keberanian John Tyler Hammons, ketika ia datang ke tengah masyarakatnya dan menawarkan diri untuk memimpin mereka. John mahasiswa 19 tahun di Universitas Oklahoma yang terpilih sebagai wali kota Muskogee, wilayah di sebelah timur laut negara bagian Oklahoma, AS. Dari seluruh suara di daerah yang telah dihitung, John Tyler memenangi 70 persen suara dan mengalahkan calon lain yang berusia lebih tua darinya.

Semoga kita (kaum muda) memiliki keberanian menawarkan solusi bagi bangsa dengan merebut kepemimpinan hari ini, sebagaimana ditunjukkan oleh John Tyler.

Ikhtisar:
- Sejarah membuktikan peran kaum muda sangat besar.
- Kaum muda bisa memberi angin segar bagi kemajuan bangsa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Menjaga Aset Intelektual Bangsa

Yasmi Adriansyah
Diplomat Indonesia di Jenewa, Alumnus Oxford University

Sebut saja namanya Handoyo. Ia adalah warga Indonesia yang pada 2005 lalu bersamaan dengan penulis menuntut ilmu di Oxford University, Inggris. Dalam usia muda, 25 tahun, ia belajar pada tingkat doktoral departemen fisika. Mengagumkan. Lebih mengagumkan lagi, pada masa sekolah menengah atas ia pernah mengharumkan nama Indonesia dengan menjadi pemenang pada olimpiade fisika internasional. Jadi, kalau dalam usia muda ia telah menempuh studi pada jurusan bergengsi di salah satu universitas tertua dunia tersebut, semuanya adalah rangkaian prestasi yang layak membanggakan negeri.

Namun, ketika ditanya rencana ke depan pascastudi doktoral di Oxford University, ia menjawab akan mencari kerja di luar negeri, baik sebagai peneliti, pengajar, maupun berkiprah di perusahaan multinasional. Ia tidak merencanakan untuk kembali ke Tanah Air. Paling tidak, kembali ke Indonesia bukanlah prioritas bagi dirinya.

Kontradiksi
Fenomena Handoyo hanyalah sedikit contoh kepergian sumber daya intelektual Indonesia ke belahan bumi yang lain (brain drain). Prestasi Handoyo dalam bidang akademis tentu membanggakan. Di sisi lain, keputusannya untuk tidak kembali ke Indonesia merupakan kehilangan yang tidak kecil bagi negeri kita. Sebuah kontradiksi yang menyedihkan.

Indonesia sejatinya merupakan salah satu negara produsen intelektual muda yang brilian. Prestasi baru-baru ini yang membanggakan adalah kemenangan Tim ITB pada Imagine Cup di Berlin, Jerman, dan perolehan lima medali emas siswa SD Indonesia pada Elementary Contest for Math di Hong Kong. Kemenangan tersebut bak oase sejuk di tengah panasnya gunjang-ganjing Tanah Air yang tidak selalu indah. Kemenangan mahasiswa ITB dan siswa SD Indonesia menambah deretan prestasi putra-putri bangsa pada tingkat internasional.

Di sisi lain, penyikapan kita sebaiknya tidak berhenti pada sikap berbangga hati. Sikap terpenting adalah jangan sampai prestasi tersebut hilang karena tidak dihargai. Jika itu yang terjadi, besar kemungkinan Handoyo-Handoyo lain akan terus mengikuti. Para peraih prestasi pun selayaknya tidak menunggu diberikan penghargaan dan pekerjaan layak. Mereka justru dituntut selalu inventif dan inovatif, meneruskan keilmuan sekaligus menciptakan produk yang dapat memberikan nilai tambah secara ekonomis. Mereka diharapkan mampu menjaga aset kecerdasannya dan memberi nilai tambah pada kesejahteraan masyarakat.

Menjaga aset intelektual
Belajar dari pengalaman negara-negara maju, salah satu cara mereka dalam menjaga aset kecerdasan dan memberi nilai ekonomis atas aset adalah melalui perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI), khususnya melalui sistem paten jika terkait teknologi atau kekayaan intelektual industri. Jika ditilik dari catatan lima tahun terakhir dari statistik aplikasi paten internasional, mayoritas negara yang selalu mencatatkan nilai tertinggi adalah negara maju (WIPO, 2008. International Patent System, Developments and Performance in 2007). Karena itulah lazim kita dengar bahwa negara maju identik dengan negara yang memiliki dan menguasai industri bermuatan teknologi.

Jika merujuk pada referensi tersebut maka cara pertama bagi putra-putri Indonesia dalam menjaga aset intelektual adalah melalui proses penemuan dan inovasi berkelanjutan dan kemudian mendaftarkan temuan atau inovasinya ke dalam sistem paten. Dengan terdaftarnya temuan atau inovasi tersebut ke dalam sistem paten, ada perlindungan atas suatu temuan inventif atau inovatif sehingga tercipta sebuah pengakuan dan penghargaan.

Melalui sistem paten, sebuah temuan atau inovasi produk teknologi diharuskan mempunyai manfaat terapan pada industri. Dengan persyaratan ini, sebuah temuan atau inovasi yang telah dipatenkan selayaknya mempunyai nilai ekonomis, paling tidak bagi penemunya dan industri yang menggunakannya. Sebagai konsekuensi logis, jika di suatu negara terdapat banyak penemu dan atau inovator, bisa dibayangkan kontribusi mereka terhadap pertumbuhan eksponensial perekonomian negaranya.

Pertanyaan selanjutnya, apakah memungkinkan putra-putri Indonesia mampu bersaing secara internasional dengan negara maju melalui sistem paten? Apalagi kompetensi negara maju, baik dari sisi teknologi, sumber daya manusia maupun fasilitasi aktivitas penelitian, jauh melampaui kapasitas negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Asumsi di atas di satu sisi memang tidak salah, tetapi bisa dikatakan tidak sepenuhnya benar. Salah satu negasi yang konkret adalah fenomena Korea Selatan. Sekitar 40 tahun lalu, negara itu masih parah, bahkan bisa disejajarkan dengan kondisi perekonomian mayoritas negara Afrika saat ini. Namun, Korsel kini telah memasuki kondisi perekonomian yang bahkan sudah bisa disetarakan dengan negara maju. Salah satu bukti majunya Korsel adalah tingginya kuantitas aplikasi paten internasional. Dalam lima tahun terakhir ini aplikasi paten internasional Korsel berada dalam kisaran lima tertinggi di dunia, bersama-sama AS, Jepang, dan Jerman. (WIPO, 2008. Ibid).

Hal lain yang dapat dimanfaatkan negara berkembang dari sistem paten internasional adalah adanya skema ‘fleksibilitas’. Melalui skema ini, baik yang dimuat di dalam Paris Convention for the Protection of Industrial Property maupun Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS), standar perlindungan paten dapat disesuaikan dengan tingkat pembangunan masing-masing negara.

Berdasarkan hal tersebut, negara seperti Indonesia sejatinya juga mempunyai kesempatan yang sama. Jika putra-putri kita mampu bersaing dalam ajang kompetisi ilmiah antarbangsa, adalah logis jika mereka juga mampu bersaing dalam sistem paten internasional.Berangkat dari keyakinan di atas maka sudah selayaknya terus dipikirkan untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas aset intelektual bangsa melalui sistem perlindungan HKI, khususnya paten. Ada beberapa saran yang dapat dipertimbangkan.

Pertama, proses penelitian teknologi di universitas atau sekolah-sekolah tinggi harus lebih intensif diarahkan ke dalam sistem paten. Dalam konteks tersebut, dunia pendidikan tinggi perlu lebih menyeimbangkan pendidikan HKI dari pendekatan hukum kepada pendekatan teknologi. Berdasarkan sejumlah kajian, pendidikan HKI di banyak negara berkembang lebih ditekankan pada aspek proteksi (hukum) dan kurang memerhatikan dimensi penemuan atau inovasi teknologi. Kini merupakan keniscayaan bagi subjek HKI untuk diajarkan di institut-institut teknologi atau di bawah fakultas-fakultas teknik agar lebih tercipta keseimbangan yang bermanfaat.

Kedua, dunia industri memainkan peranan sangat penting selaku pihak yang kelak akan mengeksploitasi produk-produk yang telah dipatenkan. Oleh karena itu kerja sama antara dunia industri dan civitas akademika merupakan sebuah potensi yang perlu lebih didayagunakan. Kerja sama bisa dimulai dari pembiayaan penelitian yang dianggap prospektif sampai dengan proses negosiasi pemberian lisensi yang bernilai ekonomis. Terakhir, peranan pemerintah selaku regulator dan fasilitator merupakan subjek penting yang harus terus dijaga kinerjanya.

Selain berperan sebagai pihak yang berwenang memberikan hak atas kekayaan intelektual, pemerintah perlu lebih memberikan perhatian pada komunitas civitas akademika yang kerap menjerit akibat minimnya alokasi anggaran pengembangan riset dan teknologi.Peranan yang tak kalah penting dari pemerintah adalah untuk tidak pernah lelah memberikan kesadaran dan keyakinan bagi masyarakat bahwa sesungguhnya Indonesia mempunyai potensi keilmuan dan teknologi yang tidak kecil. Dalam konteks tersebut, intelektual-intelektual muda kita sudah membuktikannya. Jika ketiga unsur utama tadi, yaitu universitas, dunia industri, dan pemerintah, mampu terus bersinergi, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara maju dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Sumber : Republika, 25 - Juli - 2008

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Sastrawan Sepakat Bentuk Aliansi

JAMBI (Lampost): Sastrawan se-Indonesia sepakat membentuk Aliansi Sastra Indonesia (ASI) untuk mengadvokasi hak cipta dan pembelaan sastrawan. Selain beranggotakan penyair, cerpenis, novelis, esai, dan penulis naskah drama, ASI juga melibatkan praktisi ahli di bidang advokasi.

Pembentukan lembaga tersebut disepakati dalam Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 1 di Jambi, kemarin (9-7) yang menjadi salah satu agenda TSI. Menurut ketua pelaksana TSI Sudaryono, wadah tersebut diharapkan mendorong penguatan posisi sastrawan di tengah ekologi sastra Indonesia yang tidak sehat. "Sastrawan, kritikus, penerbit, media, dan masyarakat perlu memiliki kemandirian. Ini penting untuk mengadvokasi sastrawan yang diintimidasi, dipecat kepegawaiannya atau mengalami pengekangan kreativitasnya," ujar Sudaryono.

Lain halnya sastrawan Lampung Isbedy Stiawan Z.S yang ikut dalam acara tersebut. Menurut dia, pembentukan lembaga semacam ASI tidak memiliki kontribusi yang jelas. "Lembaga-lembaga yang ada bahkan cenderung mengultuskan ketuanya, misalnya Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Komunitas Utan Kayu (KUK). Mestinya kalau mau membesarkan ya anggotanya atau karya," kata dia.

Menyinggung soal advokasi, Isbedy juga mempertanyakan efektivitas lembaga menjalankan fungsi pembelaan. Lembaga-lembaga tersebut hanya hangat di forum pertemuan. "Karena lembaga itu menurut penyelenggara harus dan ini disetujui peserta lain, saya bisa menerima lembaga itu," ujar Isbedy.

Selain Isbedy, sastrawan lain seperti Acep Zamzam Noor, Sosiawan Leak, Anwar Putra Bayu, dan Suyadi San juga tidak setuju dengan forum Aliansi Sastrawan Indonesia.

Terkait hak cipta, Sekjen Depkum HAM Abdul Bari Azed yang juga hadir sebagai pemateri menyatakan hak cipta karya sastra perlu diperjuangkan. Karya sastra juga bias jadi sasaran bajakan dan penjiplakan seperti yang terjadi pada buku atau musik. "Karya sastra juga dilindungi UU Hak Cipta No12/1997. Sudah seharusnya sastrawan mulai peduli dengan masalah ini," ujar Bari.

Temu Sastrawan Indonesia 1 diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jambi. Gubernur Jambi, Ketua DPRD, dan Muspida provinsi duduk sebagai penasihat. Kadisbudpar duduk sebagai ketua umum.

Menurut ketua pelaksana TSI 1 Sudaryono, dukungan pemda dan media massa menjadi kunci sukses acara tersebut. "Ini forum sastrawan yang acaranya diselenggarakan pemda. Tanpa ada birokrat yang peduli pada kesenian dan kebudayaan sepertinya sulit melakukan acara semacam ini," ujar dosen Universitas Negeri Jambi yang juga penyair ini.

TSI 1 diikuti sastrawan dari Sumatera, Jawa, Bali, NTB, Kalimantan, dan Sulawesi. Pada musyawarah sastrawan kemarin, seluruh peserta setuju TSI diteruskan. Untuk tahun depan, Bangka Belitung akan menjadi penyelenggara. n MAT/U-2

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Perolehan Medali PON XVII 2008

PEROLEHAN MEDALI PON XVII - 2008
TANGGAL 17-07-2008 17:50

No
Provinsi
Kode Provinsi
Jumlah
1.
JAWA TIMUR
JTM
363
2.
DKI JAKARTA
DKI
358
3.
KALIMANTAN TIMUR
KTM
341
4.
JAWA BARAT
JBR
317
5.
JAWA TENGAH
JTG
213
6.
SULAWESI SELATAN
SSL
76
7.
SUMATRA UTARA
SMU
60
8.
LAMPUNG
LPG
49
9.
BALI
BLI
60
10.
RIAU
RIU
53
11.
PAPUA
IRJ
52
12.
SULAWESI UTARA
SUT
41
13.
DI. YOGYAKARTA
DIY
49
14.
SUMATRA SELATAN
SMS
40
15.
JAMBI
JMB
56
16.
SUMATRA BARAT
SMB
62
17.
SULAWESI TENGGARA
STR
25
18.
KALIMANTAN SELATAN
KLS
23
19.
PAPUA BARAT
PAB
15
20.
MALUKU
MAL
24
21.
KALIMANTAN BARAT
KBR
30
22.
BANTEN
BTN
47
23.
NANGROE ACEH DARUSALAM
NDA
18
24.
NUSA TENGGARA TIMUR
NTT
13
25.
NUSA TENGGARA BARAT
NTB
15
26.
KALIMANTAN TENGAH
KTG
20
27.
RIAU KEPULAUAN
RIK
8
28.
BENGKULU
BKL
9
29.
BANGKA BELITUNG
BBL
7
30.
MALUKU UTARA
MLU
5
31.
SULAWESI TENGAH
STG
9
32.
GORONTALO
GRO
1
33.
SULAWESI BARAT
SUB
1
Jumlah
749
749
962
2460
Catatan :
1. Masih ada tiga medali dari tiga nomor Cabor Terbang Layang yang ditangguhkan
2. Sesuai dengan Keputusan Nomor : 08/DH-PB. PON XVII-2008 menyatakan bahwa untuk Cabor Loncat Indah
dengan Nomor Tanding :
1. Solo Free Routine, Solo Technical Routine
2. Duet Free Routine, Duet Technical Routine
3. Team Free Routine, Team Technical Routine
4. Team Free Combination
dinyatakan sah untuk dipertandingkan.
3. Sesuai dengan Keputusan Nomor : 09/DH-PB. PON XVII/VII/2008 menyatakan bahwa untuk Cabor Menembak
dengan Nomor Tanding :
1. 50 m Rifle 3 Position Women Individual
2. 50 m Rifle 3 Position Women Team
dinyatakan sah untuk dipertandingkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Lingkar Pena Mencari Naskah

Assalamu'alaikum,

Jika kamu suka menulis, berapa pun usiamu... kirimkan naskah ke Lingkar Pena.
penerbit yang berada dalam kelompok Mizan, membuka peluang bagi rekan-rekan semua untuk mengirimkan naskahnya.

Berikut jenis tulisan yang dibutuhkan Lingkar Pena:
1. Naskah dari para penulis cilik. Jika usiamu dibawah 13 tahun kirimkan cerita-ceritamu berupa kumpulan cerpen, serial atau novel. tulis di pojok kiri amplop: Naskah Penulis Cilik Punya Karya. Panjang tulisan minimal 30 halaman, maksimal boleh setebal-tebalnya. Sementara belum menerima naskah berbentuk puisi.

2. Naskah dari penulis remaja: kamu abg? mau bagi catatan harianmu? cerita cinta pertamamu? novel juga boleh. kumpulan cerpen lucu juga boleh. kejadian di kelas yang lucu dan seru? kirimkan tulisanmu. panjang tulisan minimal 50 halaman.

3. Naskah novel roman islami.
lebih disukai setting di negeri-negeri islam, cina, jepang atau korea.
tebal minimal 150 halaman, spasi 1.5. font size 12. sertakan sinopsis, karakter fisik dan sifat tokoh2nya, contact person (alamat email, notel dan alamat rumah). tidak klise atau picisan. logika cerita bisa dipertanggungjawabkan (tidak terlalu banyak kebetulan2)

4. Naskah fiksi (kumcer atau novel) plesetan, contoh pura2 ninja. cupiderman G, tebal 100 halaman 1.5 spasi. sertakan sinopsis dan karakter tokoh.

5. Naskah nonfiksi untuk tema2 remaja: tuntunan akhlak, tuntunan ibadah, kisah2 nyata, naskah2 motivasi dan inspiring untuk remaja, dll. panjang naskah minimal 100 halaman, 1.5 spasi

6. Naskah nonfiksi islam utk dewasa, kriteria hampir sama dengan poin 5. tebal mulai 60 sd 200 halaman, boleh lebih jika perlu.

7. Naskah nonfiksi non-islam (umum), inspiring, motivasi, panduan praktis, kisah2 menyentuh atau penuh keajaiban...

8. Naskah buku bergambar untuk anak usia balita, sd sekolah dasar.

9. Naskah komik.

Kirimkan naskah ke penerbit Lingkar Pena
Jl. Merdeka No 5 Blok IV
Depok 16411
Email: lingkarpena@gmail.com

Catatan:
Jangan lupa tulis jenis naskah di sebelah kiri amplop.
sertakan soft file dan copy print out.
naskah tidak dikembalikan (jadi pastikan simpan print out asli).
telp redaksi: 7712100.

Lingkar Pena Publishing House merupakan penerbit profesional dan tertib dalam menunaikan kewajiban terhadap penulis.

Jadi, tunggu apa lagi?
Kirimka naskah anda sekarang juga ^^

salam pena

Asma Nadia

CEO LIngkar Pena Publishing House.

Sumber : http://lingkarpena.multiply.com atau ke sini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Pengarang Perempuan dan Lokalitas



Pengarang Perempuan dan Lokalitas
Catatan Anwar Putra Bayu


1. Miskin Pengarang Perempuan

Sebuah kenyataan yang harus diterima oleh jagad sastra khususnya dunia
pengarang di Sumatera Selatan dengan jumlah penduduk lebih kurang 6.518.791 jiwa (data tahun 2003), yang mendiami 11 kabupaten dan 4 kotamadya, maka sedikit sekali bahkan dapat dihitung dengan jari tangan adanya pengarang berjenis kelamin perempuan.

Bila dicermati beberapa buku yang memuat tentang data atau biografi pengarang Indonesia, Buku Direktori Penulis Indonesia (Depdikbud 1997) misalnya, maka hanya tercatat nama seorang perempuan kelahiran Bangka, yakni Hamidah. Selebihnya pengarang dari Sumatera Selatan tercatat nama-nama seperti A. Bastari Asnin (Muara Dua, Komering), Alex Leo (Lahat), Bur Rasuanto (Palembang), Koko Bae atau Surya Gunawan (Palembang), Nurhayat Arief Permana (Palembang), Sobron Aidit (Belitung), Syamsu Indra Usman (lahat), T. Wijaya (Palembang), dan Wahab Manan (Palembang). Ini menunjukan bahwa dunia kepengarangan lebih banyak didominasi kaum lelaki.

Tentunya, sebagaimana nama-nama tersebut di atas, maka nama seperti B. Yass yang kelahiran Huta Padang, Kisaran (Sumatera Utara) juga merupakan sosok pengarang/sastrawan Sumatera Selatan yang tak kalah pentingnya memberikan kontribusi bagi perkembangan sastra modern Indonesia. Di masa hidupnya B. Yass banyak menyebarluaskan karya-karyanya berupa cerita pendek, novel, dan sastra lakon ke beberapa media cetak terbitan pusat dan daerah.

Setelah Hamidah meninggal pada 8 Mei 1953, tidak ditemukan lagi pengarang perempuan selama lebih kurang 37 tahun yang khusus memberi kontribusi terhadap denyut sastra di Sumatera Selatan. Barulah memasuki era 1990-an nama-nama seperti Hesma Eryani, Emedi Serry dan Ine Somad muncul. Kehadiran mereka mewarnai jagad sastra Sumatera Selatan melalui karya puisi mereka yang diterbitkan media cetak local.

Ine Somad misalnya, bersama lima penyair laki-laki (Antonarasoma, Dimas Agus Pelaz, Mulyadi J Malik, Nurhayat Arief Permana, S.N. Al-Sjajidi, dan Sumarman) adalah satu-satunya perempuan yang terlibat dalam Kumpulan Puisi Profetik “Ghirah”, yang diterbitkan oleh Sriwijaya Media Utama pada tahun 1992. Nama Ine Somad, Hesma Heryani, dan Emedi Seri belakangan ini, terutama sejak akhir tahun 1999 praktis tak terdengar lagi, apalagi setelah mereka menikah barangkali urusan domestic tampak lebih jadi penting. Meskipun menurut saya ini bukan satu-satunya alasan kemudian menghilang.

Membaca perkembangan sastra di Sumatera Selatan saat ini, maka tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan pertumbuhan dan perkembangan sastra sebelumnya. Menurut B. Trisman dalam sebuah tulisan bahwa kehidupan dunia kesasteraan modern dan keaktifan pengarang/sastrawan Sumsel dalam melahirkan karya-karya mereka sudah dimulai sejak masa sebelum kemerdekaan. Hal itu, kata Trisman, setidak-tidaknya dapat ditandai dan ditelusuri melalui system penerbitan di Sumatera Selatan.

Dalam tulisan ini, saya belum dapat melacak hingga awal abad ke 19, ketika di masa itu sudah ada surat kabar (Soeloeh Sriwijaya) yang terbit di Palembang. Mungkin akan membutuhkan waktu panjang agar bias menggali data atau informasi yang berkaitan dengan denyut nadi sastra di Sumsel. Akan tetapi, paling tidak perkembangan informasi selama tahun 1970 hingga 2000-an ini setidaknya bisa memberi gambaran.

Di masa tahun 1970-an, beberapa daerah di Indonesia, terutama di wilayah Sumatera ada semacam mulainya semangat baru ketika memasuki babak baru dalam rezim Orde Baru yakni kehidupan kesenian “disehatkan” kembali sejalan dengan kemurniannya. Betapa tidak, semasa PKI berkuasa dan mendapat tempat di tahun 1960-an, maka ketika itu kesenian harus dibelokkan menjadi alat kepentingan partai, sastra termasuk di dalamnya.

Semangat bari itu ditandai dengan adanya pertemuan-pertemuan sastra yang diselenggarakan berbagi institusi. Geliat sastra yang terjadi di beberapa daerah itu ternyata di Sumsel tak banyak melakukan aktivitas bersastra seperti diskusi, seminar, pembacaan karya sastra, dan penerbitan buku.

Pengecualian di kota Palembang sebagai ibu kota Propinsi Sumatera Selatan, suasana bersastra, terutama pembacaan puisi memang sedikit ada gaungnya, meski itu tak banyak. Ini tentunya disebabkan minimnya ruang berekspresi bagi perkembangan kepenyairan itu sendiri. Pada masa itu Palembang boleh dibilang minim soal media cetak (surat kabar atau majalah), sehingga tidak ada saluran kreatif bagi penulis puisi dan cerita penedk.

Keterbatasan itu tidak menjadi beberapa penggiat sastra lalu menyerah. Koko Bae (Surya Darmawan) misalnya, dalam usia yang masih muda saat itu berupaya melahirkan antolugi puisi mandirinya Gado-gado Kocak Koko Bae yang diterbitkannya pada tahun 1976 di Palembang. Menurut saya, bahwa antologi Koko Bae itu merupakan buku puisi tunggal yang pertama mengisi tahun 1970-an. Menyusul sembilan tahun kemudian barulah puisi-puisi Zainal Abidin Hanif mengisi Kumpulan Puisi Penyair se-Sumatera yang diterbitkan di Medan, Sumatera Utara. Setidaknya, tahun 1979 itu ada denyut sastra di Sumatera Selatan.

Kemunculan kedua penyair itu, Koko dan Hanif, tentu sangat berbeda latarbelakangnya, jika Koko Bae muncul dari arus bawah, maka Zainal Abidin Hanif muncul dari arus menengah dari lingkungan birokrat. Meminjam istilah B. Yass, tahun-tahun itu ada istilah seniman/sastrawan bilsuit. Dengan kata lain, seniman atau sastrawan jenis bilsuit –di-es-kakan—itu, biasanya lebih leluasa dan didukung ketimbang seniman atau sastrawan yang muncul dari gorong-gorong.

Antara Koko dan Hanif memang berbeda terutama dalam sikap berkesenian/bersastra. Dalam puisi misalnya, kedua penyair itu memiliki visi serta ideologi yang berbeda. Dari segi tema Koko lebih cenderung ke warna protes sosial, sedangkan Hanif lebih menonjol kepada warna ketuhanan.

Tidak berhenti pada penerbitan antologi itu saja, Koko Bae pun mulai membangun tradisi baca puisi di Palembang. Dia membacakan karyanya di depan publik. Apa yang dilakukan oleh Koko Bae tak lain mengimbangi tradisi baca puisi (audio) di RRI melalui Sanggar Sastra yang diasuh oleh Zainal Abidin Hanif. Acara baca puisi yang diasuh oleh Hanif itu memang sangat disukai masyarakat pendengar. Apa yang dilakukan oleh kedua penayir tersebut pada waktu itu merupakan kerja apresiasi yang sangat positif.

Melalui Sanggar Sastra itulah ternyata banyak melahirkan deklamator/deklamatris ketimbang penulis puisi. Program dan pembinaan Sanggar Sastra itu memang tidak diarahkan bagaimana cara menulis puisi misalnya, namun program itu lebih kepada bagaimana melisankan teks puisi dengan baik. Kalaupun adakemudian muncul penulis-penulis puisi yang baik seperti Awu Samidha, Jalius Marbe, Umar Zippin, Emedi Sery, Hendra Kusuma Wijaya, dan Z.A. Narasinga, hal itu disebabkan proses individu masing-masing.

Kemudian memasuki tahun 1980-an, geliat sastra/puisi bertumpu dan terpusat di kota Palembang. Munculnya tradisisi baru berupa festival baca puisi mulai menjadi virus, sehingga kehidupan dunia sastra makin berdenyut.

Publik sastra di Palembang setidaknya mulai akrab dengan nama-nama sastrawan, seperti Taufik Ismail, Rendra, Yudhistira, Abdul Hadi WM, dan lain-lain. Selain itu, karya-karya Umar Zippin, Koko Bae, Jalius Marbe, Narasinga, dan Hendra Kusumawijaya mulai juga akrab di telinga publik sastra Sumatera Selatan, khususnya Palembang.

Di tengah maraknya festival baca puisi sebagai cerminan budaya formalistik, maka di sisi lain turut pula mewarnai dengan terbitnya beberapa antologi puisi tunggal maupun bersama dalam bentuk cetakan buku maupun manuskrip antara lain, Sajak Kumur-kumur karya Yan Romain Hamid, Perjalanan Libeling karya Tommy dan Zulkifli, Sajak Calon Presiden 2100 karya Koko Bae, dan Musi karya Toton dan Iqbal Permana.

Akumulasi dari proses kepenyairan masa itu puncaknya ditandai dengan penerbitan dan pembacaan puisi oleh 10 Penyair (4 Nov. 1988). Sepuluh penyair itu adalah Anwar Putra Bayu, Ade Muchklis T, Jalius Marbe, Dimas Agus Pelaz, JJ. Polong, Tommy, Toton Dai Prmana, Yunen Asmara, Zulkifli Hardy, dan Yos El Yass. Setahun kemudian dilanjutkan lagi dengan penerbitan kumpulan puisi bersama Rendezvouz oleh Anwar Putra Bayu, Dimas Agus Pelaz, dan Toton Dai Permana

Semenjak itulah suasana bersastra mulai berkembang. Munculnya iklim yang mulai kondusif ditandai dengan munculnya koran-koran lokal yang kemudian menyediakan halaman sastra dan budaya. Ditambah lagi juga munculnya kantung-kantung sastra yang berkesinambungan dan tertumpu di kota Palembang. Sementara geliat sastra di tempat lain di wilayah Sumatera Selatan belum muncul kecuali Kabupaten Lahat, dari sini muncul nama Syamsu Indra Usman.HS.

Iklim bersastra di masa tahun 1980-an menambah naik suhunya, untuk seterusnya ada penajaman ketika masuk dan menjalani tahuun 1990-an hinggan yahun 2000-an. Di masa-masa ini puls penrebitan buku puisi makin banyak muncul. Demikian pulan berbagai even dan kegiatan sastra yang bersifat lokal, nasional, bahkan internasional.

Dalam era ini pula muncul nama-nama seperti T. Wijaya, SN. AL Sadjidi, Antonarasoma, Warman. P, Nurhayat Arif Permana, Ahmad Rapani Igma, Firdhamoest (M. Rahman Arpan), Ine Somad (penyair wanita). Tentunya mereka hingga saat ini masih dalam proses pencarian, yang pada gilirannya menuju kematangan masing-masing. Jika memang digeluti secara konsisten.

2. Gerakan Menulis Novel dan Warna Lokal

Dalam tujuh tahun belakangan ini, perkembangan sastra di Sumatera Selatan cukup menarik gejalanya. Setidaknya ada tiga hal yang perlu diketahui. Pertama munculnya beberapa nama pengarang perempuan seperti Ikhtiar Hidayatai (puisi/cerpen), Dahlia (cerpen, puisi, novel), Duhita Ismaya Arimbi (puisi), Indah Rizky Ariani (puisi), Ikhtiar Jannati Arini (puisi), Pipit (puisi), Deris Afriani (cerpen). Selain juga muncul pengarang laki-laki antara lain, untuk skedar menyebut beberapa nama, Anton Bae (puisi, cerpen), Pinasti S. Zuhri (cerpen, puisi), Rendi Fadillah (cerpen, puisi), Sena B. Sulistya (puisi), Nurahman (cerpen), Rizal Bae (cerpen, drama), dan Koko P. Bhirawa.

Kedua adanya kecenderungan beberapa orang beralih menulis novel. Dalam lebih kurang dua tahun belakangan ini Jagad sastra Sumsel sudah memiliki novel antara lain Juaro (T. Wijaya), Angin (Toton Dai Permana), Jungut (Dahlia), Dinding (M. Rahman Arpan), Sekojo (Anton Bae), Pulau Kemaro (Anwar P Bayu), dan Napsiah Matjik (Antonarasoma). Penulisan novel ini sebelumnya sudah dimulai oleh Helmi Apri HZ. (Hutan Karet Gugusan, 1987) dan Kamil (………………………………..).

Ketiga adanya kecenderungan warna lokal dalam beberapa tulisan, baik puisi, cerpen, drama, dan novel. Novel Buntung misalnya, novel ini bercerita soal masa depan Indonesia, sebuah prediksi (materialisme marxis) yang membenturkan kondisi sosial, ekonomi, politik, sejarah, dan kepercayaan (agama) masyarakat Indonesia. Namun dengan mengambil setting “ Indonesia kecil” yakni Palembang, di mana Palembang memiliki sejarah yang panjang dan besar di nusantara, tentunya menjadi contoh ideal buat Indonesia .

Tokoh-tokoh di dalam novel Buntung ini tidak ada yang menonjol. Semua tokoh sama. Cerita terbangun atas peristiwa seperti karakter manusia, ketegangan sosial, ekonomi, dan kepercayaan. Pada akhirnya cerita Buntung ditutup dengan keinginan manusia kembali pada hati nuraninya untuk hidup damai dan tenang. Dan tidak peduli dengan sejarah, Negara, atau peradaban besar.

Tidak peduli dengan Indonesia itu masih ada atau tidak ada. Novel yang ditulis oleh T. Wijaya ini merupakan hasil studi teks sejarah, kultural, dan empirik dengan peristiwa-peristiwa sosial, seperti mengenai perilaku dan sikap para preman Palembang .

Yang menggembirakan untuk perkembangan sastra di Sumatera Selatan saat ini, adalah munculnya novel Jungut (saat ini masih dalam proses cetak) yang ditulis oleh seorang perempuan, Dahlia namanya. Novel itu bercerita tentang perampasan tanah adat seluas 3000 Ha, yang pada gilirannya tana itu menjadi hutan industri. Setting lokal begitu kental dalam novel Jungut.

Gerakan menulis novel dan membangun lokalitas yang terjadi saat ini di Sumatera Selatan, khususnya di Palembang setidaknya “jihad kembali ke akar” yang dilakukan oleh Taufik Wijaya, hasilnya beberapa pengarang mengalami bunting! Hal ini mengingatkan saya pada pandangan Maman S. Mahayana, bahwa penting memproklamirkan semangat lokalitas menjadi sebuah gerakan yang lebih mandiri dalam arti tidak lagi bergantung pada dominasi pusat.

sumber: http://duniaanwar.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)